Sidang Sempro dan Sidang Hati
--
Ini bukan sinetron azab.
BACA JUGA:Polisi Mau Pulang ke Mana
Ini dunia nyata, di lingkungan kampus.
Sang mahasiswa merasa ditipu. Katanya dekat. Katanya mesra. Ternyata sudah punya pacar. Hatinya runtuh. Logikanya ikut ambruk. Ia lupa satu hal: kedekatan bukan kepemilikan.
BACA JUGA:Burung Besi Itu Kalah di Bulusaraung
TTM memang ciptaan generasi abu-abu. Tidak resmi, tapi posesifnya resmi. Tidak ada ijab kabul, tapi cemburunya seperti suami sah. Tidak ada komitmen tertulis, tapi ekspektasinya seperti kontrak seumur hidup.
Lalu video TTM itu beredar.
Pacar si gadis pun tercengang.
BACA JUGA:Rompi Oranye Itu Akhirnya Dilipat
Semua merasa korban.
Tak ada yang merasa pemain.
Mahasiswa itu kini merayakan Idulfitri di balik jeruji besi. Takbir terdengar dari masjid. Ia mungkin mendengar dari balik tembok. Lebaran yang mestinya tentang kembali ke fitrah, berubah menjadi pelajaran tentang konsekuensi.
BACA JUGA:Ancaman Superflu di Tengah Bayang-Bayang Covid-19
Kampus mestinya tempat orang belajar mengendalikan diri.
Ternyata ada yang lulus teori, gagal praktik.
Sumber:




