GONG XI FA CAI 2026

Menyambut Ramadan di Tengah Luka Sosial

Menyambut Ramadan di Tengah Luka Sosial

Catatan Redaksi Eko Yudiono.--

Sejak sebulan terakhir, televisi dan media digital dipenuhi iklan sirup, sarung, dan berbagai produk khas Ramadan—penanda bahwa bulan puasa segera tiba.

Namun, di balik semarak menyambut Ramadan, persoalan negeri belum juga usai. Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung tuntas. Dampaknya merembet ke mana-mana, terutama sektor pendidikan.

Kabar pilu datang dari Nusa Tenggara Timur. Seorang anak berusia 10 tahun diduga mengakhiri hidupnya karena malu uang sekolahnya sering terlambat dibayar.

Peristiwa ini menyayat hati. Di saat sebagian orang sibuk berburu promo Ramadan, masih ada anak bangsa yang terhimpit beban biaya pendidikan.

Sorotan terhadap sistem pendidikan juga datang dari Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang menulis surat terbuka kepada UNICEF. Surat tersebut berisi kritik terhadap tata kelola pendidikan di Indonesia.

Ironisnya, kritik itu justru berujung ancaman, termasuk ancaman penculikan. Kritik dibalas intimidasi—sebuah potret klasik demokrasi yang masih rapuh.

Tantangan ini tentu menjadi pekerjaan besar bagi Presiden Prabowo Subianto. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi pun menuai pro dan kontra. Sejumlah persoalan teknis dan berbagai kejadian negatif yang mengiringinya menambah daftar panjang evaluasi kebijakan.

Persoalan bangsa sejatinya adalah tanggung jawab bersama. Namun, negara tetap memegang peran utama sebagai pengarah dan pengambil kebijakan. Tanpa keberpihakan yang jelas dan solusi yang konkret, masalah kecil bisa menjelma menjadi gelombang besar.

Ramadan semestinya menjadi momentum refleksi bukan sekadar seremoni tahunan. Di tengah potensi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Lebaran, masyarakat kembali diuji daya tahannya.

Kita seolah sudah terbiasa dengan siklus tahunan ini: harga naik, daya beli turun, lalu diminta maklum.

Sebagai bangsa besar, kita tentu harus siap menghadapi tantangan. Namun, kesiapan rakyat tidak boleh terus-menerus dijadikan tameng untuk menutup lemahnya tata kelola.

Ramadan tahun ini diharapkan menghadirkan kesejukan, kebijaksanaan, dan sudut pandang yang lebih jernih, baik bagi masyarakat maupun para pemegang kekuasaan.

Bagi para pemimpin dan pembantunya, jangan remehkan riak-riak kecil. Riak yang diabaikan bisa berubah menjadi gelombang.

Dan ketika gelombang itu datang, ia tak lagi bisa diselesaikan dengan sekadar imbauan dan narasi optimisme.

Semoga Ramadan bukan hanya menenangkan suasana, tetapi juga menggerakkan nurani terutama bagi mereka yang memegang kendali negeri.


Sumber: