Ganja dan Harga Sebuah Kenikmatan
Ilustrasi bahaya penggunaan ganja--
Berita tentang upaya penyelundupan serbuk ganja dari negara lain kembali membuat kaget. Upaya itu sekaligus menjadi penanda, bahwa peredaran narkotika masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Yang lebih mengkhawatirkan, sasaran utamanya adalah generasi muda, yaitu kelompok yang sedang berada pada masa perkembangan fisik dan mental yang sangat menentukan masa depan mereka.
Sebenarnya, ada apa dengan ganja? Sejarah mencatat bahwa ganja atau disebut cannabis mulai dibudidayakan sekitar 5.000 tahun yang lalu di kawasan Asia Tengah, meliputi wilayah Tiongkok Barat, Mongolia, dan Kazakhstan. Pada masa itu, ganja tidak digunakan untuk mendapatkan kenikmatan berupa sensasi "melayang" atau euforia. Tapi sebagai sumber serat untuk membuat tali, kain, dan kertas, serta memanfaatkan bijinya sebagai sumber minyak.
Sementara itu, catatan penggunaan ganja sebagai bahan pengobatan ternyata telah ditemukan sejak zaman kuno. Dalam pengobatan tradisional Tiongkok, tanaman ini digunakan untuk membantu meredakan nyeri, rematik, konstipasi, dan malaria. Dalam sistem pengobatan Ayurveda di India, ganja digunakan untuk mengatasi nyeri, gangguan pencernaan, dan sulit tidur.
BACA JUGA:Di Balik Kenikmatan Kopi Tubruk

Gempur Rokok Illegal--
Titik Balik
Perubahan besar terjadi pada abad ke-20 ketika para ilmuwan berhasil mengidentifikasi lebih dari 500 senyawa kimia di dalam ganja, dengan 100 di antaranya senyawa golongan kanabinoid. Dua yang paling dikenal adalah tetrahidrokanabinol (THC) dan kanabidiol (CBD).
THC adalah senyawa psikoaktif utama, yang ketika dihirup atau dikonsumsi berikatan dengan reseptor kanabinoid di otak, sehingga memengaruhi kerja berbagai zat kimia pembawa pesan otak. Ikatan inilah yang menyebabkan timbulnya kenikmatan berupa rasa senang yang kuat (euforia), dan relaksasi. Namun juga disertai dengan mulai terganggunya fungsi otak, seperti penurunan daya ingat, konsentrasi, perhatian, kemampuan mengambil keputusan, dan pengendalian emosi.
Nikmat senang itu membuat pengguna selalu ingin mengulangi mengonsumsi ganja, di mana pengulangan itu membuat sel-sel otak mulai beradaptasi, sehingga dibutuhkan dosis yang semakin tinggi untuk menghasilkan efek yang sama. Kondisi ini dikenal sebagai toleransi, yang dapat berkembang menjadi ketergantungan dan adiksi. Kalau sudah tiba pada keadaan ini, maka perlu dikhawatirkan dampaknya terhadap fungsi otak remaja dan dewasa muda.
Alasannya, penggunaan THC pada masa pertumbuhan otak sampai usia 25 tahun itu berpotensi menurunkan daya ingat, kemampuan berkonsentrasi, kesulitan belajar, menurunnya motivasi, meningkatnya risiko gangguan kecemasan, hingga halusinasi. Semakin dini seseorang mulai menggunakan ganja, maka semakin besar pula risiko terganggunya perkembangan otak, yang berperan sebagai pengendali seluruh fungsi tubuh di tingkat pusat. Gangguan pada otak itu cepat atau lambat pasti akan menyebabkan kerusakan dan kegagalan fungsi semua organ tubuh penting.
Memilih Cara yang Sehat
Pada dasarnya, sebagian besar pengguna ganja ingin memperoleh rasa nyaman, tenang, atau bahagia. Ganja sebagai obat psikoaktif memaksa otak menghasilkan rasa senang dengan cepat, tetapi disertai risiko toleransi, ketergantungan, dan adiksi.
Sementara itu, ada cara lain yang secara alamiah tidak merugikan fungsi otak, seperti melalui kecukupan tidur, olahraga teratur, membina hubungan sosial yang baik, serta konsumsi makanan dan minuman yang membantu menjaga kesehatan otak tanpa mengganggu kesadaran.
BACA JUGA:Gula, Karbo, dan Diabetes
Sumber:






