Surabaya, Memorandum.co.id -Dinas Peternakan (Disnak) Jatim menyerukan peningkatan kewaspadaan masuknya penyakit antraks dengan mengoptimalkan pos pemeriksaan hewan dan pengawasan terhadap lalu lintas ternak antarprovinsi. Utamanya di perbatasan Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kepala Disnak Jatim Wemmi Niamawati menyatakan, 38 kabupaten/kota di Jatim harus tetap waspada dengan menjaga wilayah ternaknya dari ancaman penyakit tersebut. “Penyakit antraks merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya,” kata Wemmi dikonfirmasi, Rabu (22/1). Upaya lain yang dilakukan Provinsi Jatim adalah mengoptimalkan puskeswan (pusat kesehatan hewan). Di Jatim memiliki 127 puskeswan yang tersebar di kabupaten/kota yang sudah melakukan pelayanan kesehatan hewan di tingkat kecamatan dan pedesaan. Selain itu, Wemmi mengaku, Disnak Jatim juga memiliki tiga laboratorium kesehatan yang ada di Malang, Tuban, dan Madura. “Tugas mereka melakukan surveillance penyidikan penyakit melalui pengambilan sample untuk diuji. Dari ketiga laboratorium itu, terbagi untuk kabupaten/kota . Sehingga semua kabupaten/kota bisa langsung terlayani,” terangnya. Lanjutnya, sebenarnya di kabupaten/kota juga ada yang memiliki laboratorium. Untuk itu diharapkan mereka juga rutin melakukan pemeriksaan terhadap hewan ternak di daerahnya. “Ditambah lagi petugas paramedik veteriner dan dokter hewan atau medik veteriner sebanyak 970 orang yang ada di 38 kabupaten/kota baik di dinas maupun di tingkat kecamatan telah diterjunkan,” ungkapnya. Selain memberikan pelayanan kesehatan hewan dan penyuluhan. Petugas ini juga memberikan pelaporan penyakit yang integrasi dengan sistim informasi kesehatan hewan Nasional secara real time. “Bila ada penyakit langsung direspon dan segera melakukan tindakan,” imbuhnya. Wemmi menegaskan, untuk pemotongan hewan harus dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH). “Karena di RPH, akan dilakukan pemeriksaan hewan sebelum dipotong dan sesudah dipotong atau antemortem dan post mortem oleh petugas peternakan atau pengawas kesehatan masyarakat veteriner,” paparnya. Ia menegaskan, setiap prosedur harus dilakukan dengan tepat, karena penyakit antraks ini kadang tidak nampak dari luar. “Namun kalau sudah dipotong dan ada gejala misalnya limpa yang membesar 2 kali lebih besar dari ukuran normal, hewan ternak harus langsung dikubur dan tidak boleh dikonsumsi. Intinya, tahun ini Jawa Timur kita jamin aman dari penyakit antraks,” pungkasnya. (why/rif)
Disnak Jatim Waspadai Antraks
Kamis 23-01-2020,07:07 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 25-02-2026,17:33 WIB
10 Resep Simpel Menu Takjil Buka Puasa Ramadan di Surabaya, Bisa untuk Ide Jualan
Rabu 25-02-2026,05:00 WIB
Persebaya vs PSM: Duel Tim Terluka di GBT, Misi Bangkit Dua Raksasa Perserikatan
Rabu 25-02-2026,15:57 WIB
Kejati Jatim Hentikan Kasus Guru GTT Rangkap Pendamping Desa, Kerugian Rp118 Juta Dikembalikan
Rabu 25-02-2026,14:40 WIB
Jukir ATM BCA Kapas Krampung Surabaya Ancam Bunuh Nasabah, Polisi Lakukan Penyelidikan
Rabu 25-02-2026,08:37 WIB
Cerita Devi Purindra Parama Dewi, dari Talent Model ke Tanah Suci
Terkini
Rabu 25-02-2026,22:51 WIB
Pertamina Patra Niaga Gencarkan Promo Bright Gas, Ajak Warga Beralih LPG Non-Subsidi
Rabu 25-02-2026,22:44 WIB
Persebaya vs PSM Makassar 1-0, Bajol Ijo Akhiri Tren Negatif di GBT
Rabu 25-02-2026,22:32 WIB
Kapolres Kediri Kota dan Bhayangkari Tebar Ratusan Takjil di Bulan Ramadan
Rabu 25-02-2026,22:27 WIB
Mobile JKN Permudah Akses Layanan Kesehatan, Warga Desa Kaliombo Rasakan Manfaatnya
Rabu 25-02-2026,22:19 WIB