Nasik dan Nindra akhirnya menikah. Tapi, diakui Nasik, dia hanya memberikan separuh hati. Separuhnya dibawa Laila di alam sana. Alasan Nasik: andai dipertemukan kembali di surga, dia lebih memilih bersama Laila. Kesetengah-setengahan hati Nasik tampak dalam perilaku sehari-hari. Dia tidak banyak bicara. Dia hanya menanggapi sekadarnya apa yang disampaikan Nindra. Termasuk, janji untuk memberikan momongan yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng untuk Nasik. Lelaki ini hanya menanggapinya dengan senyum. Hatinya bahkan sempat terbakar ketika Nindra menjelek-jelekkan Laila sebagai perempuan mandul yang tidak berguna. Percuma jadi perempuan apabila tidak bisa mempersembahkan keturunan bagi suami, sindir Nindra. Dan, itu terjadi pada Laila. Dikatakan Nindra, Nasik sangat beruntung berjumpa dengannya, yang bakal menurunkan putra-putri ganteng dan cantik. Dan, Nindra bersumpah untuk itu. Sumpah mati. Tidak selaras dengan penampilannya yang tampak luwes dan lemah lembut, Nindra ternyata menyimpan pribadi yang panas. Brangasan dan sembronoan. Tingkah lakunya mirip Srikandi di dunia perkeliran. Di ranjang, Nindra bahkan seolah mampu mengubah diri bak singa padang pasir yang mencengkeram dan melumat lawan. Lelaki mana pun tidak bakal berkutik menghadapinya. Ini, bagi lelaki pemuja syahwat mungkin banyak dicari. Tapi, tidak begitu di mata Nasik. Baginya, Nindra tidak lebih dari hamba nafsu yang mengesampingkan unggah-ungguh budaya ketimuran. Yang justru menempatkan diri sebagai objek bagi lelaki genit. “Aku aslinya muak dengan itu. Jijik. Kok bisa-bisanya seorang perempuan merendahkan harkat dan martabatnya dengan tingkah seperti itu. Tidak adakah cara lain untuk menyenangkan hati suami? Banyak! Sebenarnya banyak kalau kita mampu menempatkan diri sesuai maqam masing-masing,” kata Nasik seolah sedang berhadapan dengan Nindra. Seolah ingin meluruskan gerak hati orang yang kini jadi istrinya itu. Dalam kehidupan sehari-hari, Nindra seolah juga ingin menampilkan diri serba di atas rata-rata. Akhirnya yang dirasakan orang-orang di sekitar dia justru pandangan Nindra sebagai perempuan yang banyak maunya, perempuan pengatur, sok tahu, sok pinter, sok kuasa, dll, dsb, dst. Selain itu, berbeda dengan Laila yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, Nindra justru menjadikan rumah hanya ibarat tempat singgah. Berbagai kegiatan dia ikuti. Bahasa kerennya, Nindra mengubah diri menjadi sosok sosialita. (jos, bersambung)
Nasib Miris Perjalanan Cinta sang Pengusaha (3)
Kamis 06-07-2023,10:00 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 05-06-2026,15:00 WIB
Markas Curanmor di Margomulyo Surabaya Digerebek Resmob
Jumat 05-06-2026,14:23 WIB
Ide Bekal Simpel dan Bergizi untuk Anak yang Anti Sayur
Jumat 05-06-2026,15:22 WIB
19 Dapur SPPG Disuspensi, Satgas MBG Situbondo Desak Pembenahan Total
Jumat 05-06-2026,21:28 WIB
Kanguru Australia Jadi Duta Lingkungan di Taman Prestasi Surabaya, Ajak Warga Peduli Sampah
Jumat 05-06-2026,19:57 WIB
Tinjau SPMB di Ngawi, Gubernur Khofifah Pastikan Verifikasi Data Calon Siswa Berjalan Baik
Terkini
Sabtu 06-06-2026,13:44 WIB
Jaring Atlet Popda dan Porprov, KONI Situbondo Seleksi Ratusan Pemain Sepak Bola
Sabtu 06-06-2026,13:11 WIB
Pemkab Lamongan Raih Terbaik 3 Nasional Pemanfaatan SIBI, Bukti Komitmen Transformasi Pendidikan
Sabtu 06-06-2026,12:56 WIB
Wujud Nyata Kepedulian Polri, Wakapolda Jatim dan Kapolres Gresik Takziah ke Keluarga Kusaeni
Sabtu 06-06-2026,12:34 WIB
Sinergi Ketahanan Pangan, Kapolsek Lumajang Kota Turun Langsung Dampingi Petani
Sabtu 06-06-2026,11:59 WIB