Surabaya, memorandum.co.id - Banyak masyarakat awam yang tidak paham bagaimana proses sampah rumah tangga yang selama ini bisa diubah menjadi pupuk kompos. Bahkan, di tengah pandemi Covid-19 ini bisa menjadi peluang bisnis baru dan menguntungkan. Tapi di tangan terampil petugas Dinas Kebersihan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, ternyata 'pasukan' pengurai sampah tersebut yaitu maggot atau black soldier fly (BSF), bisa dibudidayakan untuk makanan lele, ayam, hingga burung. Seperti yang ada di Taman Flora Kebun Bibit Wonorejo, tepatnya di Rumah Kompos, di sana proses pengembangbiakan mulai dari telur hingga maggot dilakukan secara detail dan pengawasan ahlinya. Ada dua proses pengembangbiakan maggot yang dilakukan di sana. Pertama, dikhususkan untuk mengurai sampah organik menjadi pupuk kompos dan kedua yaitu dibudidayakan untuk menghasilkan larva dan telur maggot. Dalam proses penguraian sampah menjadi pupuk kompos, larva maggot setiap tiga hingga empat hari selalu diberi makanan sampah organik. Untuk per boks yang terisi sekitar 10 ribu ekor larva maggot diberi makanan 4 kg sampah. Setelah berlangsung 12 hari, maka sampah yang sudah terurai itu bisa diambil dan disaring dengan menggunakan alat semacam mesin penyaring. "Pupuk ini yang biasa dipakai untuk tanaman di taman-taman yang tersebar di Surabaya," ujar Supri, pengawas rumah kompos Wonorejo, Minggu (29/8). Untuk di nursery room, atau ruang yang dipakai pengembang biakkan mulai dari telur hingga menjadi lalat ada beberapa tahapan mulai dari telur BSF sebanyak 500-900 telur atau klaster akan menetas 3-4 hari, bayi larva, larva dewasa, prepupa, pupa, BSF, dan dikawinkan. Untuk yang kawin, maggot diberi ruang yang lebih besar dibandingkan saat masih larva atau pupa. Ruang kawin dibuat dari material yang menyerupai gorden tempat tidur bayi. Terdapat banyak lubang kecil. Maggot memiliki fase hidup yang singkat. Maggot jantan mati setelah mengawini betina. Seperti jantan, maggot betina bakal menyusul si jantan mati setelah bertelur. "Kalau panen larva bisa untuk makan unggas dan makan ikan. Karena proteinnya sangat besar, terutama yang usia 10-12 hari," pungkas Supri. Sedangkan, Plt Kepala DKRTH Kota Surabaya Anna Fajriatin menambahkan, bahwa pihaknya siap melatih warga Surabaya yang ingin belajar budi daya maggot. Silakan datang di Rumah Kompos Wonorejo. "Nanti kami akan kasih bibitnya gratis," singkat Anna. (fer)
Budidaya Maggot Menguntungkan dan Peluang Bisnis Baru
Minggu 29-08-2021,14:35 WIB
Reporter : Syaifuddin
Editor : Syaifuddin
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 17-04-2026,07:07 WIB
Cancel Terapis di Lokasi Setelah Lihat Foto, Soapland Massage Kenakan Cas Rp100 Ribu
Jumat 17-04-2026,07:47 WIB
Waspada Beras SPHP Oplosan, Peneliti Gizi FKM Unair Ungkap Risiko Kanker hingga Keracunan
Kamis 16-04-2026,23:16 WIB
Produksi Susu Sapi Boyolali Naik Empat Kali Lipat, Suplai Capai 2.000 Liter Per Hari
Jumat 17-04-2026,00:03 WIB
Stok Energi Aman, Harga BBM Subsidi Dipastikan Stabil hingga Akhir 2026
Kamis 16-04-2026,23:32 WIB
Program MBG Ciptakan Ekosistem Pemberdayaan, Investasi Capai Rp 40 Triliun
Terkini
Jumat 17-04-2026,21:55 WIB
Guru di Bogor Ungkap Papan Digital Interaktif, Tingkatkan Semangat Belajar Siswa
Jumat 17-04-2026,21:52 WIB
Remaja Putri Boyolali Kembali Sekolah Lewat Program Sekolah Rakyat
Jumat 17-04-2026,21:44 WIB
Persebaya Tumbang 1-2 dari Madura United di Derbi Suramadu
Jumat 17-04-2026,20:53 WIB
SereS Springs Resort Ubud Kunjungi Redaksi Memorandum, Perkuat Sinergi Media
Jumat 17-04-2026,20:21 WIB