Sebab kekalahan bersaing tidak pernah menjadi tiket untuk menghancurkan. Jika warung kita sepi, mestinya kita belajar menenun inovasi dan memperbaiki pelayanan—bukan mengambil jalan pintas yang keji: meratakan apa yang tak mampu disaingi. Jangan-jangan, selama ini kita terlalu malas berbenah, lalu memilih bersembunyi di balik dalil suci agar dosa kemalasan kita tersamarkan. Sikap semacam itu justru mengkhianati angin laut dan watak luhur orang Madura yang sejak dulu terkenal sebagai perantau tangguh, pekerja keras, dan menjunjung tinggi harga diri.
BACA JUGA:Saat Kursi Lebih Silau dari Akhlak
Maka, jangan heran jika kian hari kian banyak orang yang memalingkan wajah dari para pemuka agama. Bukan karena mereka membenci Tuhannya, melainkan karena mereka lelah melihat kesucian sering dijadikan selendang untuk membungkus kesewenang-wenangan—atau, lebih parah lagi, dipakai sebagai jubah terhormat untuk menutupi dengki yang kalah bersaing di pasar.
Di balik puing-puing yang berserakan itu, ada seorang ayah yang lelah menatap langit malam, ada anak-anak kecil yang menanti esok dengan cemas, dan ada seorang istri yang menunggu kepulangan suaminya dengan membawa sisa rezeki yang halal. Mematikan usaha orang lain dengan topeng kebajikan adalah bentuk penindasan yang paling telanjang.
BACA JUGA:Menata Ulang Nakhoda NU di Tengah Tantangan Abad Kedua
Sudah saatnya kita kembali pada akal sehat. Berhenti menunggangi nama Tuhan, memperjualbelikan wibawa ulama, dan bersembunyi di balik aliansi untuk merobek periuk nasi sesama anak bangsa.
Gempur Rokok Illegal--