JEMBER, MEMORANDUM.CO.ID – Kekeringan yang melanda 10 kecamatan di Kabupaten Jember berdampak pada sekitar 2.300 kepala keluarga (KK) di 19 desa dan kelurahan. Di tengah meningkatnya kebutuhan air bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember menghadapi kendala keterbatasan bahan bakar minyak (BBM) akibat efisiensi anggaran untuk mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak.
Berdasarkan data hingga 7 Oktober 2026, krisis air bersih melanda sejumlah wilayah di Jember. Kondisi ini diperkirakan masih berlangsung karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau bertahan hingga akhir November 2026.
Mini kidi--
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengungkapkan keterbatasan anggaran operasional menjadi tantangan serius dalam penanganan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Teman-teman dari jajaran samping termasuk kami BPBD juga sudah mulai angkat tangan sebenarnya karena apa? BBM kita terbatas sekali karena di tahun ini kan juga sedang efisiensi,” ungkap Edy saat dikonfirmasi, Minggu 11 Oktober 2026.
Meski menghadapi keterbatasan operasional, BPBD Jember tetap berupaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Sejak 2 Juli hingga 7 Oktober 2026, sekitar 1,3 juta liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah terdampak dengan memanfaatkan enam sumber mata air terdekat.
“Distribusi tetap kami upayakan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan operasional dan tingkat kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah,” tegasnya.
BACA JUGA:Retakan Tanah 40 Meter di Jalur Gumitir Jember, Ancaman Longsor Mengintai
Untuk mengatasi keterbatasan BBM, BPBD terpaksa menyesuaikan jadwal pengiriman air bersih. Distribusi yang sebelumnya dilakukan setiap dua hari sekali kini diperpanjang menjadi empat hari sekali di wilayah yang persediaan airnya masih mencukupi. Sementara itu, daerah dengan kondisi paling mendesak tetap menjadi prioritas penyaluran bantuan.
“Kami harus mengatur jadwal distribusi agar bantuan tetap berjalan dan warga yang paling membutuhkan bisa mendapatkan air bersih terlebih dahulu,” tambahnya.
Di sisi lain, wilayah terdampak kekeringan terus meluas. Sejumlah daerah yang sebelumnya belum tercatat mengalami krisis air bersih kini membutuhkan bantuan, di antaranya Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, dan Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.
BACA JUGA:Kemarau Panjang Cekik Jember, PMI Datangkan Air Bersih untuk Warga Sukorambi
BMKG memperkirakan musim kemarau berlangsung hingga akhir November 2026, sedangkan masa peralihan menuju musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada awal Desember mendatang. Kondisi tersebut membuat upaya pemenuhan kebutuhan air bersih perlu terus dilakukan hingga hujan kembali turun.
Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember telah menerbitkan surat keputusan tanggap darurat karhutla dan kekeringan untuk memperkuat koordinasi penanganan bencana di lapangan.
Gempur Rokok Illegal--