Menurut Ade, kelompok yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, pekerja luar ruang, dan atlet.
Anak-anak memiliki sistem fisiologis yang belum matang, sementara lansia memiliki cadangan fisiologis yang lebih rendah dan cenderung memiliki penyakit penyerta.
Pekerja ruang luar dan atlet juga menghadapi risiko lebih tinggi karena aktivitas fisik serta paparan panas yang berlangsung lebih lama. Dampak krisis iklim, kata Ade, tidak berhenti pada kesehatan fisik.
Bencana seperti banjir, kebakaran, dan kekeringan dapat mengganggu akses terhadap air, pangan, listrik, transportasi, dan layanan kesehatan.
Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Setelah bencana, masyarakat dapat mengalami kecemasan, ketakutan, sulit tidur, hingga trauma.
BACA JUGA:Hesti Ajak Masyarakat Cegah Penyakit Jantung dengan Gaya Hidup Sehat dan Skrining
Karena itu, dukungan keluarga dan sosial diperlukan untuk menjaga kesehatan mental, termasuk dengan mempertahankan rutinitas dan mencari bantuan profesional bila diperlukan.
Ade mendorong keluarga untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dengan memantau kondisi cuaca dan kualitas udara, menjaga hidrasi, mencari tempat sejuk, mengurangi aktivitas berat saat panas, serta melindungi kelompok rentan.
Masyarakat juga perlu memastikan keamanan air dan makanan, menghindari asap rokok dan pembakaran, melakukan pemberantasan sarang nyamuk untuk mencegah demam berdarah dengue (DBD), serta menyiapkan obat rutin, kontak darurat, transportasi, dan tempat aman.
"Siap pada keluarga, ada lima langkah yang harus kita pantau. Kita harus lihat cuaca, panas, kualitas udara dan peringatan lokal, minum dan sejuk, hidrasi, dan kurangi aktivitas berat saat panas. Lindungi kelompok rentan, anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis. Cegah 3M plus untuk DBD, air dan makanan aman, hindari asap, rokok, dan pembakaran. Rencanakan obat rutin, kontak darurat, transportasi, dan tempat aman atau sejuk," ujar Ade.
Menurut dia, perlindungan kesehatan menghadapi krisis iklim tidak dapat hanya mengandalkan individu.
Pemerintah dan masyarakat perlu membangun kota yang lebih sehat melalui ruang hijau, transportasi yang baik, kualitas udara yang terjaga, sistem peringatan dini, serta kebijakan mitigasi emisi dan ketahanan kesehatan.
"Kita mungkin tidak bisa mengendalikan cuaca, tapi kita bisa meningkatkan kesiapan tubuh, keluarga, dan sistem kesehatan," kata Ade. (udi)