"Jika air masuk ke kapal, tentu akan memengaruhi stabilitas. Apakah ada kebocoran lambung atau masuk dari bagian lain, itu semua harus dipastikan melalui investigasi," tegasnya.
Menurut Dhimas, aspek keselamatan tidak cukup hanya melihat kondisi mesin karena kelaikan kapal harus dipastikan secara menyeluruh, termasuk kondisi lambung, sistem permesinan, hingga berbagai komponen pendukung.
Setiap kapal juga memiliki jadwal inspeksi dan perawatan sesuai standar klasifikasi, dengan pemeriksaan berkala untuk memastikan komponen yang mengalami penurunan fungsi dapat diperbaiki atau diganti.
"Tentunya setiap kapal ada inspeksi rutin, bisa tahunan atau enam bulanan sesuai ketentuan dan kelas kapal. Komponen yang harus diperiksa maupun diganti sudah memiliki standar," jelasnya.
Di sisi lain, prosedur keselamatan ketika terjadi kondisi darurat juga menjadi faktor penting untuk mengurangi jumlah korban.
Dhimas mengatakan, kapten dan awak kapal memiliki peran penting dalam menentukan tindakan ketika kapal berada dalam kondisi berbahaya, termasuk menjalankan prosedur abandon ship apabila kapal mulai miring dan situasi mengharuskan penumpang meninggalkan kapal.
"Kalau memang kondisi kapal sudah berbahaya dan harus ditinggalkan atau abandon ship, ada prosedurnya. Penumpang harus menggunakan jaket pelampung dan sekoci penyelamat harus disiapkan," ucapnya.
Selain aspek kelaikan dan prosedur keselamatan, teknologi pemantauan juga dapat mendukung proses pencarian dan pertolongan.
ITS mengembangkan Automatic Identification System ITS (AISITS) yang memungkinkan pergerakan kapal dipantau melalui data yang diterima Remote Base Station (RBS) dan server AISITS. Sistem tersebut dapat merekam posisi, kecepatan, hingga arah pergerakan kapal secara real time.
Dalam kasus KM Virgo Transport 8, AISITS mencatat kapal bertolak dari Terminal Jamrud Selatan pada 12 September 2026 sekitar pukul 10.00 dan bergerak dengan kecepatan sekitar 0,3 hingga 3,5 knots di kawasan pelabuhan sebelum memasuki Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS).
BACA JUGA:129 Penumpang Virgo Masih Dicari, Basarnas Andalkan Kapal Niaga dan Nelayan
Data AISITS juga mencatat KM Virgo Transport 8 mengalami lost contact sekitar pukul 22.33.
Dhimas menyebut data tersebut dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam operasi pencarian dan pertolongan karena ketika terjadi anomali pergerakan atau kapal kehilangan kontak, jejak pergerakan terakhir dapat membantu memperkirakan posisi dan arah kapal.
"Ketika ada anomali pergerakan atau kapal lost contact, data AIS dapat digunakan untuk memprediksi posisi kapal dan arah pergerakannya. Ini penting agar proses pencarian dan evakuasi bisa segera dilakukan," pungkasnya. (ain)