Wujudkan Good Governance University, UB Hadirkan Audit ISO 31.000

Rabu 23-09-2026,21:33 WIB
Reporter : Edy Riawan
Editor : Rakhmat Hidayat

MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Universitas Brawijaya (UB) bertekad menjadikan kampus yang Good Governance University. Hal itu, ditandai dengan dilakukannya.Audit ISO 31.000, di setiap satuan kerja, mulai 23 September hingga 07 Oktober 2026.

Ketua Satuan Reformasi Birokrasi Universitas Brawijaya, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, SH., M.Hum., menerangkan, saat ini sedang dilakukan proses audit manajemen resiko. Dilakukan oleh pihak ketiga. Dimaksudkan, untuk memperkuat komitmen UB.

"Audit ISO 31.000 versi 2018 ini,
memperkuat komitmen UB.  Terhadap upaya penerapan proses manajemen resiko, yang secara menyeluruh terintegrasi dan berkelanjutan," jelasnya saat ditemui, Rabu 23 September 2026

Manfaat dari ISO 31.000 itu, sebagai pengakuan dan kredibilitas independen. Jadi pengakuan formal, kata Ngesti, penting bagi UB yang objektif dari pihak ketiga. Manajemen resiko, telah memenuhi standar internasional dan memperkuat kredibilitas institusi

Kemudian, bisa mendorong perbaikan berkelanjutan. Diharapkan ada temuan dan rekomendasi aplikasi dari auditor. Karena, akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan, regulasi dan pedoman.

"Di aplikasi Semar yang dulu sempat kita launching di awal tahun, dengan sistem elektronik. Sehingga manajemen resiko dan sudah teraplikasikan semuanya," lanjutnya.

Fungsi lain dari audit manajemen resiko, adalah memperkuat kepercayaan bagi pemangku kepentingan. Sehingga nantinya mitra-mitra UB, mahasiswa, dosen, dan seluruh stakeholder yang berhubungan, menaruh kepercayaan kuat. Bahwa UB, telah melaksanakan manajemen Resiko.

Seluruh progres dan tahapan ini, bagian dari kepercayaan publik. Persiapan ISO 31.000 ini, lebih ke managemen. Penerapan manajemen resiko, sebenarnya dilakukan di tahun 2024. Diperbarui dengan transformasi digital.

"Momentumnya, di tahun 2025 kita memperkuat pedoman melalui regulasi peraturan rektor. Kita sudah perbaiki itu. Kemudian yang kedua adalah dengan perbaikan budaya sadar resiko. Sudah di implementasikan di seluruh unit kerja, di seluruh Universitas Brawijaya," lanjutnya

Tahun 2025, menjadi titik balik transformasi digital dari proses penerapan manajemen resiko dengan aplikasi smart. Di tahun 2026, diaudit apakah ada celah yang harus diperbaiki. Ada proses yang perlu diperbaiki, atau ada evaluasi yang diperbaiki.

Lebih lanjut ia menjelaskan,
ada lima domain resiko, baik resiko akademik dan reputasi. Berkaitan resiko akademik dan reputasi, adalah soal akreditasi.  Kemudian sistem pengajaran di kampus, dan bagaimana kualitas dosen dan capaian kinerja.

"Termasuk, berkaitan SDM. Berkaitan soal tata kelola sumber daya manusia. Bagaimana antisipasi, perubahan, adaptasi perkembangan di tingkat nasional maupun internasional," pungkasnya. (edr/day)

Kategori :