Kasus ISPA Surabaya Melonjak 63,5 Persen, DPRD Ingatkan Orang Tua Waspadai DBD

Selasa 15-09-2026,17:20 WIB
Reporter : Arif Alfiansyah
Editor : Mochamad Syaifudin

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Surabaya mencapai 40.539 kasus pada Agustus 2026 atau meningkat sekitar 63,5 persen dibandingkan Jul. Maka, DPRD mengingatkan orang tua mewaspadai demam berdarah dengue (DBD).

Angka tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang periode Januari-Agustus 2026. Kondisi ini membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika anak mengalami demam dan tubuh lemas.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya dr Michael Leksodimulyo mengatakan, peningkatan keluhan penyakit mulai terlihat pada periode Agustus hingga September. Kunjungan pasien dengan gejala ISPA juga disebut mulai meningkat di sejumlah fasilitas kesehatan.

Namun, Michael mengingatkan masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan setiap demam tinggi sebagai influenza. Justru, demam tinggi disertai tubuh sangat lemas tanpa batuk atau pilek perlu dicurigai sebagai gejala DBD.

“Kalau dia sudah lemes, panas tinggi, belum tentu ada batuk, belum tentu ada pilek, tapi dia tahu-tahu anak ini sama sekali mau bangun aja susah. Artinya apa? Arahnya ke demam berdarah,” kata Michael, Selasa 15 September 2026.

BACA JUGA:DPRD Surabaya Dorong Tukang Sampah hingga ART Masuk Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan


Mini kidi--

Menurutnya, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab demam, salah satunya melalui pemeriksaan trombosit ketika terdapat dugaan DBD.

“Dibuktikan dulu. Kemudian sampai di Puskesmas kalau memang hasilnya trombositnya itu kurang, itu sudah cukup. Panas yang tinggi dengan adanya trombosit yang kurang, maka itu masuk di dalam kriteria BPJS ke rumah sakit,” ujarnya.

Michael menyebut peningkatan kasus ISPA juga mulai tercermin dari kunjungan pasien di fasilitas kesehatan. Dia mencontohkan Rumah Sakit PHC Surabaya, dengan kunjungan pasien yang mengalami keluhan serupa sebelumnya berada di kisaran 38 persen, kemudian meningkat sekitar 22 persen.

Pada 13 September, kunjungan kembali disebut mengalami peningkatan sekitar 20 hingga 30 persen. Mayoritas pasien dengan keluhan tersebut merupakan anak-anak. Kondisi itu, kata Michael, perlu menjadi perhatian karena gejala gangguan pernapasan dapat muncul dalam berbagai kondisi penyakit.

Dia juga meluruskan soal istilah Influenza A yang belakangan banyak menjadi perhatian masyarakat. Menurutnya, penyebutan Influenza A tidak otomatis menunjukkan jenis atau subtipe virus tertentu.

“Kalau kita bicara mengenai virus Influenza A, harus dilakukan swab. Kalau dilakukan swab kemudian keluar H1N1 pdm09 positif, yang bersangkutan diisolasi,” jelasnya.

BACA JUGA:Temukan Kasus DBD, Petugas Masuk Kampung Semprot Fogging


Gempur Rokok Illegal--

Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan diagnosis sendiri hanya berdasarkan gejala. Demam, batuk, bersin hingga tubuh lemas perlu dipantau dan diperiksakan apabila kondisinya memburuk.

Michael juga mendorong Puskesmas memperkuat pemantauan kesehatan hingga tingkat lingkungan. Kader kesehatan, termasuk KSH dan kader Posyandu, dinilai dapat berperan mendeteksi warga yang mengalami gejala penyakit sejak dini.

Temuan tersebut kemudian dapat dilaporkan kepada petugas Puskesmas untuk ditindaklanjuti.

“Kalau mereka tahu bahwa ada sekitar yang ada di warga, yang ada di sekitar rumahnya, ada yang bersin-bersin nggak sembuh-sembuh, batuk pilek nggak sembuh-sembuh, dan dia dengarkan ‘Anakku loh panas tinggi’ waktu dibeli di pasar, maka KSH atau kader Posyandu ini wajib untuk melaporkan ke Puskesmas,” katanya.

Menurut Michael, pemantauan tidak seharusnya menunggu kasus meningkat atau kondisi pasien memburuk. Tracing dan penanganan perlu dilakukan sejak muncul indikasi awal.

“Kalau kita cinta kota kita, kita akan melakukan tracing atau jemput bola itu sejak dini, sekarang,” tegasnya.

Michael meminta masyarakat tidak panik menghadapi peningkatan keluhan ISPA maupun kekhawatiran terhadap Influenza A. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi orang tua yang mendapati anak mengalami demam tinggi, lemas, sulit beraktivitas, atau muncul gejala lain yang tidak lazim.

Dia menegaskan, tidak semua demam dan gangguan pernapasan disebabkan penyakit yang sama. Pemeriksaan tenaga medis tetap menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab sekaligus menentukan penanganan. (alf)

Kategori :