Air Mata di SPBU

Sabtu 12-09-2026,06:00 WIB
Editor : Mochamad Syaifudin

*Catatan Akhir Pekan KH A Nawawi Maksum

Di bawah terik matahari yang kian menyengat, seorang kakek renta tertunduk lesu di samping motor reyotnya. Dua jam sudah ia berdiri, mendekap setang besi yang bergetar rapuh, sabar menanti giliran di ujung barisan SPBU yang tak kunjung bergerak. 

Jeriken kecil di bagasi itu hanya akan diisi sekadarnya, demi bensin untuk menyalakan mesin pencari rumput. Rumput-rumput itulah yang setiap hari ia arit dengan napas satu-satu, menyambung hidup seekor sapi kurus di kandang reyotnya satu-satunya tumpuan hari tuanya. 

Menyaksikan pundak ringkih itu bergetar menahan lelah, batin ini terasa begitu ngilu; di saat para pejabat sibuk merangkai angka statistik di ruang ber-AC, ada nyawa-nyawa kecil yang berjuang setengah mati demi memastikan dapur mereka masih mengepul.

BACA JUGA:Surat untuk Ibu


Mini kidi--

Derita di atas aspal panas itu hanyalah setitik perih dari luka yang merentang luas di Jember, Bondowoso, Situbondo, hingga Banyuwangi. Kelangkaan bukan lagi cerita asing; Pertalite raib, Pertamax pun bersembunyi. Ketika lonjakan permintaan mendadak melompat tujuh hingga sepuluh persen di atas batas normal, dan rantai pasok logistik dari depot mengalami keterlambatan parah hingga 48 jam, hari-hari berubah menjadi ladang penyiksaan. Terlebih saat antrean truk tangki mengular sejauh sepuluh kilometer di jalur penyeberangan. Waktu rakyat terbuang percuma, sementara sopir angkutan, ojek online, petani, nelayan, serta pelaku UMKM harus menyaksikan produktivitas harian mereka dirampas paksa.

Namun, di tengah himpitan hidup yang menyesakkan, ketahanan jiwa diuji. Sabar bukanlah sikap pasif yang menyerah pada takdir, melainkan nyala api batin untuk terus merawat asa. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim, bahwa segala urusan seorang mukmin adalah kebaikan; jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya. 

Kesabaran spiritual ini menuntun kita untuk memadukan ketenangan zikir dengan ikhtiar cerdas, seperti ditegaskan Syeikh Dr. Yusuf al-Qaradawi dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer. Senada dengan itu, Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menuliskan bahwa kesempitan hidup adalah madrasah Ilahi yang mendidik hati untuk bangkit menegakkan keadilan.

BACA JUGA: Gempita Horeg: Pesta Rakyat atau Derita Warga


Gempur Rokok Illegal--

Sebab, ketabahan masyarakat tidak boleh sedikit pun dijadikan dalih bagi pemangku kebijakan untuk berdiam diri. Ketika jerit para pekerja kecil terabaikan, gelombang kekecewaan publik bukanlah dosa, melainkan alarm kemanusiaan yang menuntut pertanggungjawaban moral. Pemerintah memikul amanah mutlak untuk segera berbenah secara total membersihkan rantai distribusi, menindak tegas penimbun, serta menjamin keadilan energi hingga ke desa terpencil.

Hari ini, di antara sela-sela antrean panjang yang menguras air mata, kita memeluk kesabaran sebagai selimut batin sekaligus menyalakan keberanian untuk mendesak negara agar lekas berbenah. Semoga kelak, tak ada lagi kakek renta yang harus menangis di atas motor reyotnya, hanya demi mengejar secercah bensin di tanah pertiwi yang semestinya bermurah hati pada rakyatnya sendiri. 

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Nurut Taqwa, Bondowoso

Kategori :