BACA JUGA: Menolak Risywah Politik: Menyelamatkan dari Cengkeraman Makelar Suara
Sebagai penguat, Islam memandang kekuasaan bukanlah sekadar rampasan perang yang sah diambil oleh siapa saja yang paling nyaring suaranya atau paling kuat otot barisannya. Kepemimpinan adalah amanah suci yang di pundaknya memikul keselamatan umat. Saat orientasi bergeser dari pengabdian menjadi penguasaan, yang tersisa hanyalah perebutan bangku kosong di tengah halaman rumah yang sedang terbakar oleh ego mereka sendiri.
Lebih jauh lagi, jika proses penjaringan calon sudah dicederai oleh kecurigaan dan rekayasa prosedur, legitimasi pemimpin yang lahir dari proses tersebut akan rapuh sejak hari pertama ia dilantik. Pemimpin besar tidak pernah lahir dari jalan-jalan pintas yang menyingkirkan hak pihak lain untuk berkompetisi secara sehat. Sejarah panjang jam'iyah ini dibangun di atas fondasi akhlakul karimah dan tetesan keringat tirakat para muassis, bukan lewat letupan amarah dan adu fisik di ruang sidang.
Oleh karena itu, pimpinan sidang dan seluruh perangkat muktamar memikul tanggung jawab moral yang sangat berat untuk kembali pada rel keadilan. Aturan wajib ditegakkan secara transparan, bukan ditafsirkan lentur demi melanggengkan kepentingan segelintir faksi. Kubu yang merasa dirugikan atau dijegal juga harus mampu menahan diri, menyelesaikan sengketa melalui jalur argumentasi yang bermartabat, alih-alih menyeret massa ke dalam pusaran anarki yang merusak citra organisasi.
BACA JUGA:Menyelamatkan Porsi Anak Negeri
Sebab, sehebat apa pun ambisi memenangkan jagoan dalam bursa ketua umum, kursi kepemimpinan itu pada akhirnya bersifat fana. Ia hanyalah persinggahan sesaat dalam lembaran sejarah yang panjang. Pertanyaannya, pantaskah kemuliaan nilai-nilai keulamaan ditukar dengan penyesalan abadi hanya demi sebuah kursi kekuasaan?
Di luar gedung muktamar, angin senja berhembus lembut menyapa dedaunan. Mengingatkan kita bahwa matahari selalu tenggelam pada waktunya, meninggalkan sunyi yang memaksa kita meraba jalan pulang. Kekuasaan pun akan surut, meninggalkan jejaknya masing-masing. Yang abadi bukanlah siapa yang menang atau kalah dalam pertarungan faksi, melainkan catatan sejarah tentang bagaimana sebuah marwah diperjuangkan apakah dengan keteladanan para ulama yang menyejukkan, atau dengan ego otot yang merusak rumah besar umat.
Gempur Rokok Illegal--
Kemenangan sejati bukanlah ketika jagoan kita menduduki singgasana tertinggi, melainkan ketika palu akhir sidang diketok, dan kita semua masih bisa saling merangkul, melangkah pulang berdampingan sebagai saudara.
~ A. Nawawi Maksum ~
(Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso)