SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memastikan operasi SAR khusus penanganan kebakaran KMP Mutiara Sentosa II resmi dihentikan dan dialihkan ke operasi rutin.
Hal itu disampaikan Syafii setelah memasuki hari ketiga operasi, Selasa 4 Agustus 2026 siang. Ia menyebut, seluruh proses evakuasi berjalan lancar berkat sinergi berbagai pihak yang terlibat.
“Inilah salah satu wujud nyata bahwa negara hadir saat masyarakat mengalami musibah. Berkat doa, dukungan, dan kerja sama semua instansi, proses evakuasi berjalan lancar,” ujarnya.
Dalam operasi tersebut, total penumpang yang terkonfirmasi berada di kapal mencapai 238 orang, termasuk awak kapal dan tenaga operasional lainnya. Dari jumlah tersebut, seluruh korban berhasil dievakuasi, dengan rincian 233 orang selamat dan lima orang meninggal dunia.
BACA JUGA:Data Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2 Belum Sinkron, Basarnas Tunggu Rilis Resmi
Mini kidi--
Syafii menjelaskan, para korban sempat bertahan di laut selama sekitar dua jam setelah kapal terbakar, sebelum akhirnya dievakuasi oleh kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi kejadian.
Adapun proses evakuasi dilakukan oleh sejumlah kapal, di antaranya KM Meratus Pematang Siantar yang mengevakuasi 110 penumpang selamat dan dua meninggal dunia. Kapal TB Hasnur 62 orang selamat, SAR Permadi 9 orang selamat, Selaras Mas 13 orang selamat, KRI Nala 30 orang selamat dan dua meninggal dunia. Serta KM Mutiara Ferindo 1 yang mengevakuasi delapan orang selamat dan satu meninggal dunia.
Menurut Syafii, seluruh penumpang diketahui telah menggunakan pelampung (life jacket) saat menyelamatkan diri. Hal ini menjadi faktor penting yang membantu proses evakuasi berjalan optimal.
“Dari hasil konfirmasi kepada korban, seluruhnya sudah menggunakan life jacket saat terjun ke laut,” jelasnya.
BACA JUGA:Basarnas Perluas Pencarian Nelayan Hilang di Perairan Gresik Lewat Pemantauan Udara
Gempur Rokok Illegal--
Ia juga menegaskan, korban meninggal dunia bukan akibat terbakar, melainkan diduga karena terjatuh dari ketinggian saat proses penyelamatan. Beberapa korban diperkirakan jatuh dari ketinggian lebih dari 10 meter ketika kapal dalam kondisi miring.
Selain itu, kondisi medan evakuasi yang cukup ekstrem juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua kapal penolong memiliki akses ramdoor, sehingga korban harus naik menggunakan tangga tali dengan ketinggian signifikan.
Basarnas juga mengapresiasi peran kru kapal yang dinilai cepat melakukan siaran darurat (broadcast) sehingga penumpang dapat segera berkumpul dan menggunakan alat keselamatan.
BACA JUGA:KM Mutiara Santosa 2 Terbakar di Perairan Sumenep, Evakuasi Penumpang Libatkan Sejumlah Kapal