Menjaga Pelita Independensi: Refleksi dari Madinah Menjelang Umrah

Sabtu 01-08-2026,09:59 WIB
Reporter : Ahmad Syaiku
Editor : Muhammad Ridho

Almarhum Faisal Basri semasa hidupnya juga sering mewanti-wanti agar penguasa tidak mencampuradukkan ambisi politik anggaran dengan disiplin ilmu moneter yang ketat.

Jejak sejarah peradaban Islam sebenarnya sudah memberikan teladan mengenai prinsip ini. Pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, sang Amirul Mukminin secara tegas menolak ikut campur dalam urusan teknis harga dan mekanisme pasar demi menjaga keadilan yang objektif.

BACA JUGA:Nasi Bungkus dan Panggung Sandiwara

Sikap kenegarawanan itu diulas secara tajam oleh Imam Abu Yusuf dalam Kitab al-Kharaj, di mana ia mengingatkan bahwa kemakmuran sebuah negeri tidak akan terwujud jika penguasa memaksakan ambisi fiskal tanpa mendengarkan kalkulasi matang dari para ahli.

Peringatan serupa digaungkan oleh sosiolog muslim termasyhur, Ibnu Khaldun, dalam karyanya, Muqaddimah. Ia menuliskan bahwa kesejahteraan suatu bangsa sangat bertumpu pada kemandirian institusi ekonominya. Jika penguasa mulai lancang mengintervensi urusan dapur keuangan demi kepentingannya sendiri, pasar akan kehilangan kompas dan berujung pada kebangkrutan massal.

Pada akhirnya, dampak dari kebijakan ekonomi yang ugal-ugalan bukanlah teori di atas kertas; ia nyata dan menghantam orang-orang kecil setiap hari. Harga bahan pokok melambung, lapangan pekerjaan menyempit, dan rasa aman perlahan sirna.

BACA JUGA:Kenyang dalam Dusta

Mundurnya Perry Warjio adalah cerminan dari beban struktural yang teramat berat itu. Menjaga kewarasan ekonomi hari ini ibarat merawat sebatang pelita kecil di tengah badai malam. Jika pelita itu padam lantaran dipaksa tunduk pada tiupan angin kekuasaan, seluruh negeri ini bersiap berjalan dalam gelap.

Menyaksikan semua dinamika ini dari tanah haram yang penuh berkah, terbersit sebuah renungan. Negeri ini sudah terlalu lelah dengan riuh rendah retorika dan ambisi yang mengabaikan akal sehat. Yang kita perlukan hari ini adalah kejernihan nurani dan kepekaan pada penderitaan rakyat.

Semoga bahtera negeri ini senantiasa dikaruniai keselamatan dan kebijaksanaan hingga sampai di dermaga keadilan.

BACA JUGA:Di Balik Sunyi Ruang Kelas

~ A. Nawawi Maksum ~

(Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso)

Tags :
Kategori :

Terkait