Lumajang Sudah Bentuk 50 Desa Tangguh Bencana

Kamis 09-07-2026,13:30 WIB
Reporter : Agus Sucipto
Editor : Fatkhul Aziz

LUMAJANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID - Keselamatan saat bencana tidak hanya bergantung pada cepatnya bantuan datang, tetapi juga pada kesiapan masyarakat mengambil tindakan sejak menit-menit pertama.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Pemerintah Kabupaten Lumajang terus memperkuat Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan mitigasi berbasis masyarakat. Hingga saat ini, sebanyak 50 desa telah memiliki Destana untuk membantu warga mengenali risiko, memahami jalur evakuasi, dan mengambil langkah penyelamatan secara mandiri ketika bencana terjadi.

BACA JUGA:Data Jadi Dasar Penentuan Prioritas, Pemkab Lumajang Perbaiki 282 Rumah Tidak Layak Huni


Mini Kidi Wipes.--

Penguatan tersebut menjadi semakin penting karena karakter geografis Kabupaten Lumajang menempatkannya sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Berdasarkan pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terdapat 12 jenis ancaman bencana yang berpotensi terjadi di Lumajang, meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem dan abrasi, gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, kebakaran hutan dan lahan, wabah penyakit serta epidemi penyakit hewan dan tumbuhan.

Data BPBD Kabupaten Lumajang menunjukkan, dari 50 Destana yang telah terbentuk, sebanyak 31 desa berstatus Pratama, 18 desa Madya, dan satu desa telah mencapai kategori Utama. Sementara itu, Desa Darungan, Kecamatan Yosowilangun, saat ini sedang menjalani proses pembentukan Destana sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di wilayah yang memiliki potensi banjir akibat luapan sungai serta berada di kawasan pesisir yang berpotensi terdampak tsunami.

BACA JUGA:Pemkab Lumajang Ajak Masyarakat Gunakan BBM Subsidi Sesuai Aturan dan Tepat Sasaran

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Timur, Deni Kiki Melia Tamara, mengatakan pembentukan Destana bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali ancaman, mengurangi risiko, dan mengambil keputusan yang tepat sebelum bencana terjadi.

"Tujuan dibentuknya Destana adalah meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat agar mampu melakukan mitigasi serta mengambil langkah yang tepat sebelum bencana terjadi," ujarnya saat kegiatan pendampingan di Desa Darungan, Rabu 8 Juli 2026.

Menurut Deni, masyarakat yang tergabung dalam Destana tidak hanya memperoleh edukasi kebencanaan. Mereka juga dilatih menyusun peta risiko desa, menetapkan jalur evakuasi, menentukan titik kumpul, hingga mendata kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta penyandang disabilitas agar proses penyelamatan dapat berlangsung lebih cepat, tertib, dan tepat sasaran saat keadaan darurat.

BACA JUGA:Di Tengah Banjir Informasi, Pemkab Lumajang Dorong Budaya Cek Fakta dan Verifikasi

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Lumajang, Sultan Syafaat, menjelaskan bahwa karakter geografis Kabupaten Lumajang menjadi alasan utama penguatan kapasitas masyarakat tidak dapat ditunda. Setiap desa memiliki karakter ancaman yang berbeda sehingga membutuhkan kesiapsiagaan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.


Gempur Rokok Illegal--

"Kesiapsiagaan harus dibangun sejak sebelum bencana terjadi melalui mitigasi dan pengurangan risiko. Saat bencana, masyarakat harus mengetahui cara menyelamatkan diri dan membantu sesama. Setelah itu, masih ada tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan masyarakat dapat kembali pulih," jelas Sultan.

Kepala Desa Darungan, Eko Nur Hadi, berharap pembentukan Destana mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana sekaligus memperkuat kemampuan warga dalam melindungi diri, keluarga, dan lingkungan.(Ags)

Kategori :