Jawa 2050

Jumat 10-04-2026,08:00 WIB
Reporter : Fatkhul Aziz
Editor : Fatkhul Aziz

Mungkin kita sedang menulis sebuah eulogi yang panjang, namun kita tak menyadarinya. Di Jawa, pulau yang dalam babad-babad tua digambarkan sebagai tanah yang gemah ripah lohjinawi, sebuah sunyi yang lain sedang bekerja. Ia bukan gemuruh ombak yang datang menghantam, melainkan tanah yang perlahan-lahan menyerah, amblas ke dalam pelukan bumi yang haus.

Selama ini, kita lebih suka menatap langit. Kita menyalahkan perubahan iklim global, mencemaskan es di kutub yang mencair, seolah-olah bencana adalah tamu tak diundang yang datang dari kejauhan. Namun, penelitian terbaru dari Leonard Ohenhen dan timnya yang dimuat dalam Science Advances memaksa kita untuk menunduk, menatap ke bawah kaki sendiri.

BACA JUGA:Di Simpang Jalan Gubernur Suryo


Mini Kidi Wipes.--

Ternyata, bukan hanya laut yang naik. Tanah kitalah yang turun. Dan ia turun dengan kecepatan yang lebih angkuh daripada naiknya air pasang.

Di Jakarta, di Semarang, di Surabaya, tanah merosot antara 1 hingga 15 sentimeter per tahun. Bandingkan dengan kenaikan air laut global yang "hanya" beberapa milimeter. Di Bandung, Pekalongan, dan Demak, lebih dari 30 persen wilayah kota sedang meluncur ke bawah dengan kecepatan lebih dari 5 sentimeter setiap tahunnya. Ini bukan lagi soal alam yang murka; ini soal sejarah haus manusia yang tak kunjung usai.

BACA JUGA:Maaf dan Dendam

Ada ironi yang pedih di sini. Kita menyedot air tanah untuk gedung-gedung beton yang pongah, untuk sawah-sawah yang dipaksa bekerja lembur, dan untuk industri yang tak kenal jeda. Kita mengambil isi bumi, lalu heran mengapa permukaannya kehilangan daya tumpu.

Pada tahun 2050—hanya dua puluh empat tahun dari sekarang—penurunan muka tanah ini diprediksi akan menyumbang 85 persen dari risiko banjir pesisir di Jawa. Sebagian besar garis pantai kita akan didominasi oleh genangan yang bukan berasal dari kemarahan samudra, melainkan dari kekosongan yang kita ciptakan sendiri di bawah sana. Dari Bekasi hingga Jember, dari Subang hingga tepian Bengawan Solo, daratan perlahan-lahan berubah menjadi ingatan.

Manoochehr Shirzaei, salah satu peneliti dalam studi itu, memberikan sebuah catatan yang mungkin merupakan secercah harapan sekaligus teguran: penurunan tanah adalah masalah lokal. Berbeda dengan pemanasan global yang membutuhkan kesepakatan rumit para pemimpin dunia di ruangan-ruangan berpendingin udara yang jauh, urusan tanah amblas ini bisa kita tangani sendiri. Ia bisa dikelola melalui kebijakan, melalui disiplin dalam menggunakan sumber daya, melalui cara kita menghargai air.

BACA JUGA:Lailatul Qadar dan Krisis Global

Namun, apakah kita bisa?

Jawa 2050 mungkin adalah sebuah lanskap di mana batas antara darat dan laut menjadi kabur. Bukan karena takdir, tapi karena kita gagal mengenali batas keinginan kita sendiri. Jika kita terus membiarkan tanah ini merosot demi pertumbuhan yang instan, maka pada akhirnya, kota-kota kita hanyalah akan menjadi sekumpulan menara yang tegak di atas air, meratapi fondasinya yang telah hilang ditelan ambisi.


Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--

Di akhir hari, alam mungkin tidak sedang menghukum kita. Ia hanya sedang mengikuti hukum fisika: bahwa apa yang dikosongkan, pada waktunya, akan runtuh. Dan di Jawa, keruntuhan itu sedang berlangsung dalam senyap, sentimeter demi sentimeter.

Kategori :

Terkait

Jumat 10-04-2026,08:00 WIB

Jawa 2050