“Pergerakan ini lebih mencerminkan respons pasar terhadap shock global dan rigiditas domestik, bukan perubahan fundamental yang permanen,” jelasnya.
Fakhrul menambahkan, salah satu faktor yang mendorong fenomena ini adalah tertundanya penyesuaian harga domestik, terutama pada komponen yang diatur pemerintah. Dalam kondisi tersebut, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.
Meski demikian, ia menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas sudah tepat. Intervensi di pasar, baik melalui spot maupun instrumen derivatif, dinilai penting untuk meredam volatilitas dan menjaga kepercayaan pasar, meski tidak serta-merta menghilangkan tekanan secara instan.
Gempur Rokok Ilegal. Laporkan Peredaran Rokok Ilegal ke Kantor Bea Cukai Malang.--
Peluang di Balik Normalisasi Rupiah
Di balik tekanan yang terjadi, pelemahan rupiah justru membuka peluang strategis bagi perekonomian nasional.
David melihat kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong perbaikan neraca transaksi berjalan.
“Ini juga menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik,” katanya.
BACA JUGA:Pemerintah Bakal Renovasi 400 Ribu Rumah Masyarakat Miskin Tahun Ini
Fakhrul pun melihat adanya tanda-tanda stabilisasi global, khususnya dari meredanya tensi geopolitik dan naiknya harga komoditas yang menguntungkan Indonesia sebagai negara eksportir. Dalam situasi tersebut, tekanan terhadap rupiah berpotensi mereda secara bertahap.
Ia menilai fase overshooting yang terjadi saat ini akan diikuti oleh proses normalisasi nilai tukar. Kondisi ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan pelaku pasar sebagai momentum untuk mulai menyesuaikan strategi investasi.
“Ketika mulai ada stabilisasi, biasanya kita masuk fase normalisasi. Ini bisa menjadi momentum untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap dolar AS,” ujarnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah saat ini tidak hanya mencerminkan dinamika global semata, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan daya saing ekonomi nasional ke depan.