Ia tinggal bersama istrinya, Kadmina (39), dan tiga anak mereka. Dahulu, setiap kali melaut dini hari, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Bukan soal hasil tangkapan semata, melainkan kondisi rumah yang sewaktu-waktu bisa terendam rob.
“Kalau lagi kerja itu pasti ada rasa khawatir. Kepikiran terus rumah banjir, kepikiran anak istri. Tapi mau gimana, kalau khawatir terus, kerja juga jadi enggak fokus,” katanya.
Kekhawatiran itu mencapai puncaknya pada akhir 2022. Saat banjir besar datang, istrinya yang tengah hamil besar harus dievakuasi dengan cara dibopong menggunakan kasur ke rumah orang tua. Tak lama berselang, rumah mereka roboh.
BACA JUGA:Strategi Pemerintah untuk Mudik Lebaran Lancar: Jalan Mantap dan Posko Lengkap
“Waktu itu ya sudah, yang penting keluarga selamat dulu. Rumah bisa dicari lagi, tapi kalau keluarga kenapa-kenapa itu yang enggak tergantikan,” kenangnya.
Setelah peristiwa itu, Warsana dan keluarga sempat mengungsi, menumpang di rumah orang tua dalam kondisi serba terbatas. Lebaran demi Lebaran pun terasa lewat begitu saja, tanpa rasa aman.
Kini, di rumah barunya, suasana itu berubah total. Lebaran dirayakan sederhana, namun penuh makna. Tanpa genangan air, tanpa rasa cemas.
BACA JUGA:Pemerintah Jaga Pasokan Sembako Jelang Nyepi dan Idulfitri Cukup dan Harga Terkendali
“Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah, khususnya Kementerian Sosial, yang sudah peduli dengan masyarakat kecil seperti kami. Dengan adanya tempat ini, kehidupan kami jadi jauh lebih baik, lebih layak, dan lebih tenang,” ucapnya.
Di Kampung Nelayan Sejahtera, Lebaran bukan lagi tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang rasa aman yang akhirnya bisa dirasakan. Sebuah perubahan sederhana, namun berarti besar bagi mereka yang selama ini hidup di garis ketidakpastian.