Rumah Kecapi Surabaya Gelar Konser Chinese New Year di Pakuwon Mall

Sabtu 21-02-2026,16:28 WIB
Reporter : Anwar Hidayat
Editor : Aris Setyoadji

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Rumah Kecapi Surabaya menggelar konser Chinese New Year di Grand Atrium Pakuwon Mall Surabaya untuk melestarikan musik tradisional Tiongkok, Sabtu 21 Februari 2026.

Pertunjukan tersebut menjadi daya tarik pengunjung pusat perbelanjaan dengan penampilan murid beserta pengajar yang memainkan alat musik tradisional Tiongkok.


Mini Kidi Wipes.--

Tenaga pengajar yang mendampingi murid terdiri dari Stephanie Indrawati sebagai guru pipa, Chennie Susiani sebagai guru hulusi, serta Calvin Putra yang mengajar erhu.

Founder Rumah Kecapi Surabaya, Olivia Lin, menjelaskan konser kali ini memiliki keunikan dibanding tahun-tahun sebelumnya karena difokuskan pada empat alat musik tradisional, yakni guzheng, pipa, erhu, dan hulusi.

BACA JUGA:Dewa 19 Guncang JX Expo, Polsek Wonocolo Pastikan Konser Ekspectanica Berjalan Kondusif

“Kalau dulu pesertanya lebih banyak, jenis musiknya juga lebih beragam. Tahun ini kita fokus pada empat jenis alat musik tradisional guzheng, pipa, erhu, dan hulusi,” ujarnya.

Menurutnya, lagu yang dimainkan tidak terbatas pada genre Mandarin, melainkan disesuaikan dengan tema yang dibawakan.

“Ada lagu anak-anak yang ceria. Alat musik tradisional Cina ini fleksibel, bisa dimainkan dengan berbagai jenis lagu,” tambahnya.


Gempur Rokok Illegal--

Ia menegaskan pemilihan lokasi konser di dalam pusat perbelanjaan bertujuan menarik perhatian masyarakat agar lebih mengenal alat musik tradisional Tiongkok.

“Kita ingin orang-orang yang biasanya tidak pernah melihat alat musik tradisional Tiongkok jadi tahu dan tertarik. Di mall, vibenya lebih hidup dan ramai,” jelasnya.

Rumah Kecapi Surabaya membuka kesempatan belajar bagi berbagai kalangan usia mulai dari anak-anak usia 4 tahun hingga paruh baya.

BACA JUGA:aman Apsari Rusak Usai Konser Hari Kemerdekaan, DPRD Surabaya Desak Penyelenggara Tanggung Jawab

Olivia menyebut tantangan terbesar dalam mengajar anak-anak adalah menjaga konsentrasi, terutama bagi yang berusia di bawah 7 tahun.

“Anak-anak under 7 tahun biasanya lebih aktif dan sulit fokus. Tapi kalau sudah SD, mereka lebih teratur dan enak diajak belajar,” katanya.

BACA JUGA:Antisipasi Curanmor dan 3C, Polsek Lakarsantri Gencarkan Patroli Presisi KRYD di Pakuwon Indah

Ia juga menilai tantangan di era modern adalah mengubah pandangan bahwa musik tradisional dianggap kuno dan membosankan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa musik tradisional bisa dikolaborasikan dengan genre modern seperti EDM, gamelan, bahkan angklung. Musik tradisional tetap relevan dan asyik jika dimainkan dengan cara yang tepat,” pungkas Olivia. (yat)

Kategori :