Oleh: Ali Murtadlo Bu Risma marah, panen komentar. Bu Risma menangis, ramai komentar. Bu Risma sujud, very full komentar. (Maaf, komentarnya cari sendiri ya. Terlalu "seru" untuk ditulis di sini) Hati-hati jika sudah ditangani PR (public relations) manager. Orang yang semula "genuine" menjadi berbeda. Apalagi kalau porsinya sudah berlebihan. Orang Surabaya bilang "neg", too much, kakehan, kebanyakan. Tak perlu buzzer beliau sudah kuat. Prestasinya sudah punya daya bicara berkekuatan "ribuan kata". Taman-taman yang indah, bunga-bunga yang bermekaran, warga kota atau luar kota yang kerap foto di "bunga sakura" (Tabebuya) yang men-Jepang akan bertindak sebagai "voluntarily PR officers". Fotonya bakal tersebar ke mana-mana. Surabaya yang bersih adalah "spokesperson" tersendiri, yang sangat andal. Tanpa diteriakkan, orang sudah percaya. Apalagi? Kekuatan endorsement pihak ketiga jauh lebih kuat dari iklan terbaik mana pun. Lebih hebat dari booster, buzzer, influencer, terhebat sekali pun. Achievement beliau sudah melebihi ribuan ton kata-kata buzzer, kata-kata influencer. Cobalah simak, apa perlunya dan pentingnya, mereka mengomentari apa yang dilakukan Gubernur Jakarta. Terlalu jauh. Hanya membuat orang gampang menebak, kemana arah anginnya pasca masa jabatan keduanya. Orang akan mencium bau skenario, grand design, dan hidden agenda. Apalagi kalau dipaksakan, tidak natural, tidak akan menghasilkan positive image. Sebaliknya, damaging image. Padahal, PR-ing activity (ies) dimaksudkan untuk building image. Citra positif. Ada tipikal orang yang tidak perlu dipoles. Presiden Jokowi yang sejak mula terkesan "lugu dan ndeso" menurut saya dibiarkan saja dengan keluguan dan "kendesoannya". Bukan sesuatu yang negatif. Itu kelebihan. Syaratnya: kata-kata dan tindak tanduknya inline dengan karakter dasarnya itu. Jika disulap menjadi pemimpin yang dikesankan "tegas, cepat, modern, mileneal" bisa tidak cocok lagi karena berlawanan dengan karakter dasar tadi. Hasilnya: bisa lucu dan aneh. Masih ingat pembukaan Asian Games lalu. Nah, Pak Jokowi yang mengendarai moge tapi diperankan stuntman luar negeri, mendapat tanggapan pro kontra. Begitu juga dengan Bu Risma. Apa yang kuat melekat dengannya? Pekerja keras. Pekerja karier. Bukan politikus. Bukan titipan partai. Bukan karbitan. Selalu terjun ke lapangan. Siang malam. Ya sudah, Itu karakter yang genuine (asli) dari beliau. Jangan dipaksa-paksa lainnya. Mekso. Lucu jadinya. Tercerabut dari karakter keasliannya. Let lugu be lugu. Biarkan lugu tetap lugu. Itu kekuatan yang sangat powerful. Salam! Ali Murtadlo, Kabar Gembira Indonesia (KGI)
Let Lugu Be Lugu!
Selasa 30-06-2020,15:55 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Sabtu 14-03-2026,21:47 WIB
Aryna Sabalenka Melaju ke Final Indian Wells 2026, Siap Balas Kekalahan dari Elena Rybakina
Sabtu 14-03-2026,23:02 WIB
Jelang Idulfitri, Bulog Jatim Salurkan 42 Ribu Ton Beras dan 9 Juta Liter Minyak Kita
Sabtu 14-03-2026,22:23 WIB
Berkat Program MBG, Usaha Tempe di Sukoharjo Naik 100 Persen dan Buka Lapangan Kerja Baru
Sabtu 14-03-2026,22:04 WIB
Anak-Anak Aceh Tamiang Antusias Program MBG, Menu Ayam, Daging Lembu hingga Buah Segar
Minggu 15-03-2026,11:24 WIB
Ngabuburit Road Safety, Satlantas Polres Lumajang Guyur Pengendara dengan 500 Paket Takjil
Terkini
Minggu 15-03-2026,20:52 WIB
PKB Jombang Pastikan Gen Z Masuk Ring Utama Kepengurusan Jelang Muscab
Minggu 15-03-2026,19:55 WIB
Puting Beliung Hantam Desa Segorotambak Sedati, 50 Rumah Rusak
Minggu 15-03-2026,19:41 WIB
Muslimat Kureksari Waru Santuni 45 Janda dan Duafa Jelang Idulfitri
Minggu 15-03-2026,18:10 WIB
Kapolres Gresik Cek Kesiapan Personel dan Sarpras Pos Pelayanan Alun-Alun Jelang Idulfitri
Minggu 15-03-2026,18:05 WIB