Siswa SMP di Surabaya Tewas Tersengat Kabel AC, Begini Kronologinya

Rabu 07-05-2025,08:01 WIB
Reporter : Alif Bintang
Editor : Muhammad Ridho

SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Tanu Hariyadi (41), ayahanda SSH (14), membeberkan kejadian tragis yang merenggut nyawa putra semata wayangnya akibat sengatan kabel AC yang terkelupas. 

Insiden tersebut berawal dari tugas kelompok Ujian Praktek (Uprak) PJOK dari sekolah. Saat itu, SSH dan teman-temannya dilarang berlatih di rumah teman oleh guru SMP Katolik Angelus Custos Surabaya.

BACA JUGA:Kabel AC Mengelupas Renggut Nyawa Siswa SMP di Surabaya: Keluarga Tuntut Tanggung Jawab Sekolah


Mini Kidi--

SSH beserta teman-temannya diarahkan untuk melakukan tugas tersebut di sekolah.

Kemudian pada hari libur sekolah tanggal 28 Maret 2025, SSH bersama teman-temannya menuju ke sekolah. Namun, kelas yang hendak mereka gunakan ternyata terkunci.

Mereka lalu menuju ke lapangan dan melihat kakak kelas SMAK Frateran (satu yayasan dengan SMPK Angelus Custos) sedang latihan P5 di Gazebo lantai IV SMAK Frateran.

BACA JUGA:Komplotan Pencuri Kabel AC Mal Diringkus

BACA JUGA:Petugas KPPS Peneleh Tersengat Listrik, Luka Parah di Bagian Tangan

Mereka pun memutuskan untuk berlatih di sana. Nahas, saat latihan di Gazebo, korban sempat melompat ke genteng belakang dan tak sengaja menyentuh tembaga AC yang terkelupas.

"Teman-temannya bersaksi putra saya sempat berteriak aku kesetrum lalu mematung selama sekitar 40 detik sebelum akhirnya terjatuh dan kepalanya terbentur pagar," jelas Tanu dengan suara bergetar, Rabu, 7 Mei 2025.

BACA JUGA:Tragis! Karyawan Ubi Bakar Cilembu di Lidah Wetan Tewas Diduga Tersengat Listrik

Pasca tersetrum, SSH segera dilarikan ke Rumah Sakit Adi Husada Undaan Wetan oleh teman-teman dan kakak kelasnya, namun nyawanya tidak tertolong. Pihak rumah sakit menyatakan SSH meninggal dunia pada pukul 12.35.

Atas kejadian tersebut, Tanu mengungkapkan kekecewaannya terhadap pihak sekolah yang dinilai kurang responsif dan tidak menunjukkan empati atas insiden tragis ini.

“Saya hanya ingin tahu detail peristiwa yang dialami anak saya dan bagaimana tanggung jawab dari pihak sekolah. Bahkan saat saya berkunjung ke sekolah, mereka kurang merespons dan tidak menunjukkan penyesalan atau berduka cita," ungkapnya.

Kategori :