Ada yang berjilbab, ada yang bersorban, ada berjenggot, ada yang mengenakan baju takwa, bercelana cingkrang, bercadar, dan identitas kemusliman lainnya. Tiada ragu: Isyhadu bi anna muslimun: saksikanlah bahwa sesungguhnya saya seorang muslim. Saya kagum. Saya juga kagum kepada pemain voli nasional putri yang tetap berbusana muslim, meski harus tetap bermain gesit dan lincah. Sama sekali tidak merasa terganggu. Taatnya kepada yang mahamengatur aurat, mengalahkan segalanya. Saya juga kagum kepada bintang Liverpool, Mo Salah dan Sadio Mane yang usai mencetak gol seringkali diikuti dengan sujud syukur, termasuk pemain nasional kita seperti Ivan Dimas. Saya kagum dengan anak-anak putri SD yang mengenakan rok panjang sudah berlatih menutupi auratnya dengan memakai celana training saat dibonceng motor orang tuanya. Saya bayangkan betapa panasnya jika sekolahnya tidak ada penyejuk ruangan. Tapi, ketaatan mereka mengalahkan segalanya. Sayangnya, ada yang mungkin tidak menyadari "isyhadunya" kurang mengharumkan citra (building image), malah bisa merusaknya (damaging image). Misalnya dengan mengenakan identitas "isyhadu" itu tidak mau antre, main serobot, saat di lampu lalu lintas langsung wuss padahal masih belum hijau, buang sampah di sungai. Ini contoh lain yang sepele tapi sebetulnya dilarang agama. Yakni, mengambil makanan yang bakal mubazir saat menghadiri pesta. Misalnya, mengambil sate lima tusuk, yang dimakan hanya dua tusuk. Lalu tiga sisanya ditaruh begitu saja di meja piring kotor. Nasib tiga tusuk ini pasti terbuang. Padahal seandaianya tadi hanya mengambil dua, tiganya bisa dimakan oleh tamu yang datang belakangan. Padahal, innal mubadzirina kanu ihwanas syayatiin, sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan (Al Isra 27)). Ada yang lebih sepele lagi, misalnya kita lihat ada pembicara yang berkualifikasi ustad/zah, sedang manggung, tapi ternyata ketika minum air putih di depannya, memakai tangan kiri, padahal sedang disaksikan audiennya. Tentu hebat bisa menunjukkan "isyhadu" kemusliman kita, tapi lebih hebat lagi, kalau kita bisa menjaganya dengan perilaku yang bisa mengharumkannya. Misalnya, seorang siswi SMA berjilbab menyeberangkan nenek tua yang kesulitan menyeberang jalan. Pemilik Alphard berhenti di pinggir jalan, keluar dua ibu berjilbab menenteng boks nasi buka puasa yang dibagikan gratis kepada abang becak dan pengemudi OJOL. Inilah pesan Al Quran agar kita berdakwah dengan anggun: serulah menuju jalan Tuhanmu dengan cara hikmah (bijaksana), dan pengajaran yang baik. Jika harus berdebat, berdebatlah dengan santun" (An Nahl 125). Semoga kita termasuk bagian yang ahli building image agama kita, bukan yang damaging. Aamiin. 12 Mei 2020, ba'da Asyar Oleh: Ali Murtadlo* Presented by: Kabar Gembira Indonesia (KGI)
Pengharum Agama atau Perusaknya?
Selasa 12-05-2020,15:39 WIB
Reporter : Agus Supriyadi
Editor : Agus Supriyadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 06-11-2026,14:07 WIB
DPC FKPP Gresik Resmi Dikukuhkan, Wabup Alif Ajak Sinergi Permudah Perizinan Pesantren
Jumat 06-11-2026,10:52 WIB
Tak Hanya Berburu Sembako Murah, Warga Antusias Cek Kesehatan Gratis di HUT ke-57 Memorandum
Jumat 06-11-2026,07:32 WIB
Serap Aspirasi Buruh, Kapolresta Sidoarjo Gelar Silaturahmi dengan Pimpinan Serikat Pekerja
Jumat 06-11-2026,10:27 WIB
Diserbu Warga, Minyakita Jadi Primadona Gerakan Pangan Murah HUT ke-57 Memorandum
Jumat 06-11-2026,08:52 WIB
Borong Beras hingga Minyak Murah, Warga Berharap Bakti Sosial Memorandum Rutin Digelar
Terkini
Sabtu 07-11-2026,07:15 WIB
Satreskrim Polresta Malang Kota Bekuk Pelaku Curanmor, 3 Lainnya Masuk DPO
Sabtu 07-11-2026,06:56 WIB
Pak Yes Sulap TK Kartika Lamongan: Dari Beralas Karpet Jadi Kelas Modern
Sabtu 07-11-2026,06:24 WIB
Mitigasi Perubahan Iklim, Menteri PU Tekankan Penguatan Tata Kelola Bendungan Besar di Malang
Sabtu 07-11-2026,06:09 WIB
Rumput Tetangga Lebih Hijau (6): Kesetiaan yang Dibuang di Ujung Penyesalan Tak Bertepi
Sabtu 07-11-2026,05:17 WIB