Krisis Lahan Makam Surabaya, Pakar Dorong Keterlibatan Swasta
Pakar Tata Ruang Kota dan Lingkungan Hidup, Putu Rudy Satiawan--
SURABAYA, MEMORANDUM.CO.ID - Tingginya angka kematian di kota besar seperti SURABAYA memicu krisis ketersediaan lahan pemakaman. Kota ini kini menghadapi ancaman kelangkaan lahan yang kian serius.
Pakar Tata Ruang Kota dan Lingkungan Hidup, Putu Rudy Satiawan, menilai krisis ini membutuhkan perubahan paradigma yang mendasar. Pemangku kebijakan juga dinilai perlu melibatkan sektor swasta.
Menurut Rudy, kekeliruan pandangan di masa lalu menjadi salah satu pemicu utama masalah tersebut.
BACA JUGA:Tujuh TPU di Surabaya Penuh, Pemkot Dorong Sistem Makam Tumpang dan Siapkan Lahan 44 Hektare
"Masyarakat dan pemerintah sempat menganggap makam sebagai ruang publik," ujar Rudy, Senin 2 November 2026.

Mini kidi--
Padahal, kata dia, makam pada hakikatnya adalah ruang privat. Setelah terisi, lahan tersebut tidak dapat digunakan oleh sembarang orang.
Kondisi kelangkaan lahan di perkotaan memaksa warga menerapkan sistem makam tumpang untuk anggota keluarga yang sama.
BACA JUGA:Kunjungi Jawa Timur, Kapolri Sowan ke Ponpes Tebuireng dan Ziarah Makam Gus Dur
Situasi ini sekaligus mendorong pergeseran penyediaan lahan makam ke arah komersialisasi. Bisnis properti pemakaman modern pun tumbuh pesat.
Rudy mencontohkan fenomena bisnis pemakaman komersial di Jakarta, seperti Karawang. Di kawasan tersebut, pengusaha mengembangkan makam privat yang terpadu. Lahan ini dilengkapi fasilitas lanskap premium dan kemudahan akses jalan tol.
"Pengusaha tahu bahwa makam kini menjadi ruang privat. Mereka mengembangankannya dengan lanskap yang luar biasa dan akses yang cepat," tutur Rudy.
BACA JUGA:Pemkot Surabaya Percepat Perluasan TPU Keputih, Siapkan Blok Makam Muslim dan Nonmuslim
Ia menjelaskan bahwa pasar utama dari properti pemakaman Karawang tersebut adalah warga metropolitan Jakarta dan sekitarnya.
Sumber:








