Rumput Tetangga Lebih Hijau (1): Terperangkap dalam Bayang-Bayang Nadia
-Ilustrasi-
Dunia sering kali adalah sebuah kamar tunggu yang panjang. Di sana, di antara aroma kopi yang mendingin dan dering gawai yang gelisah, Tete sering menemukan dirinya terlempar pada sebuah igauan.
“Kalau dulu aku menikah sama dia, mungkin hidupku gak akan seperti sekarang.”
BACA JUGA:Istri di Mana-mana, Anak Terlupakan (1): Bertahan di Tengah Janji Manis yang Palsu
Ia mengatakannya di hadapan seorang sahabat lama, seorang lelaki yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat, seolah-olah ketidakwarasan bisa diukur dari cara seseorang memandang cangkirnya sendiri.

Mini kidi--
“Maksudmu siapa?” tanya sahabatnya.
“Cinta pertamaku.”
BACA JUGA:Istri di Mana-mana, Anak Terlupakan (2): Menghitung Dosa di Balik Ijab Kabul
“Lho, bukannya kamu sudah punya istri?”
Tete mengangguk, mengamini kenyataan yang menjelma menjadi tumpukan piring kotor dan suara tangis anak bungsu. “Anakku juga sudah tiga.”
“Terus kenapa masih mikirin mantan?”
Tete terdiam. Ia merogoh saku, mengeluarkan sebuah kotak bercahaya yang memuat dunia orang lain. Di layar itu, seorang perempuan tersenyum dalam balutan kemapanan. Elegan. Kariernya melesat bagai komet. Namanya tercatat di antara mereka yang merayakan hidup, jauh melampaui batas-batas dapur berbau bawang dan cucian yang belum diangkat.
“Ini dia sekarang,” bisik Tete.
BACA JUGA:Istri di Mana-mana, Anak Terlupakan (3): Anak-Anak yang Mencari Ayahnya
Sumber:










