iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Lima Bulan Kekeringan, Warga Gumuksari Jember Bertahan dengan Air Tetangga

Lima Bulan Kekeringan, Warga Gumuksari Jember Bertahan dengan Air Tetangga

Sekitar 100 kepala keluarga di Dusun Kasengan, Gumuksari, Jember, kesulitan air bersih selama lima bulan akibat kemarau panjang.--

​JEMBER, MEMORANDUM.CO.ID - Retakan tanah di bawah terik matahari seolah menjadi saksi bisu atas penderitaan panjang yang dirasakan warga Dusun Kasengan, Desa Gumuksari, Kecamatan Kalisat, Kabupaten JEMBER. Sudah lima bulan lamanya, kemarau panjang merenggut sumber kehidupan paling dasar di perkampungan ini: air bersih.

​Kondisi tersebut bukan hanya melumpuhkan aktivitas rumah tangga, tetapi juga memukul telak sektor pertanian yang menjadi urat nadi penghidupan warga setempat. Sumur-sumur warga dengan kedalaman tujuh hingga delapan meter kini berubah menjadi lubang-lubang kosong yang tak lagi mengeluarkan setetes pun air.

​Muhammad Ferdiansyah (21), seorang pemuda yang menggantungkan hidupnya sebagai petani, merasakan betul betapa kejamnya musim kemarau tahun ini. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kekeringan kali ini jauh lebih lama dan menguras tenaga.

BACA JUGA:Ikhtiar di Tengah Kemarau Panjang, Yonif Raider 509/BY Gelar Salat Istisqa

​“Kalau tahun-tahun sebelumnya memang sering kekeringan, tetapi tidak selama sekarang. Kali ini sudah sekitar lima bulan tidak ada air di sumur,” ungkap Ferdi dengan nada lirih saat diwawancarai, Kamis 22 Oktober 2026 sore.


Mini kidi--

​Untuk sekadar bertahan hidup—minum dan memasak—Ferdi dan keluarganya harus mengandalkan belas kasihan tetangga yang sumurnya masih menyisakan sedikit air. Sementara untuk mandi dan mencuci, sungai menjadi satu-satunya pelarian, meski sering kali aliran airnya sudah menyusut drastis.

​“Kalau untuk minum dan memasak, saya biasanya meminta air dari sumur tetangga. Kalau untuk mandi dan mencuci, kadang mengambil dari sungai, atau bahkan mencari sumber air ke wilayah lain saat sungai mulai mengering,” tambahnya.

BACA JUGA:Kemarau Bikin Jember Membara, Kebakaran Melonjak Drastis Capai 219 Kejadian Akibat Kecerobohan Bakar Sampah

​Dampak kekeringan ini kian sempurna melumpuhkan asa para petani. Lahan-lahan tembakau, cabai, dan jagung milik Ferdi dan warga lainnya terancam gagal total akibat minimnya pasokan air. Pertumbuhan tanaman terhenti, membuat bobot daun tembakau jauh dari harapan saat waktu panen tiba.

​Dari sekitar 4.500 tanaman tembakau yang dirawatnya dengan penuh peluh, Ferdi tahun ini hanya mampu meraup pendapatan sekitar Rp8 juta. Angka ini terjun bebas jika dibandingkan musim panen sebelumnya yang mampu menembus lebih dari Rp10 juta.

​“Tahun sebelumnya hasilnya bisa lebih dari 10 kuintal dalam satu kali panen. Sekarang tidak sampai 10 kuintal, dan pendapatan dari sekitar 4.500 tanaman tembakau hanya sekitar Rp8 juta,” paparnya getir.

BACA JUGA:Kemarau Panjang Cekik Jember, PMI Datangkan Air Bersih untuk Warga Sukorambi

​Nasib serupa dirasakan oleh Dedi Sumantono. Sejak Juni lalu, ia harus berjuang ekstra keras demi menyelamatkan tanaman di ladangnya. Meski harga jual tembakau tahun ini tergolong bagus, kekurangan air membuat banyak tanaman mati sebelum sempat dipetik.

Sumber: