MTQ Difabel 2026 di Lamongan Diikuti 100 Kafilah se-Jawa dan Bali
Ratusan kafilah penyandang disabilitas mengikuti MTQ Difabel 2026 se-Jawa dan Bali di Pendopo Lokatantra Kabupaten Lamongan.--
LAMONGAN, MEMORANDUM.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) LAMONGAN bersama Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten LAMONGAN dan Griya Quran Difabel Kabupaten LAMONGAN menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Difabel 2026 yang diikuti 100 kafilah penyandang disabilitas dari berbagai daerah di Jawa dan Bali untuk memperkuat pembinaan Alquran secara inklusif di Pendopo Lokatantra, Selasa 13 Oktober 2026.
Kompetisi tingkat regional tersebut menjadi wadah bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan membaca, melantunkan, dan menghafal ayat suci Alquran.

Mini kidi--
Pelaksanaan MTQ Difabel 2026 juga menjadi bagian dari implementasi program prioritas Lamongan Nyantri yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui penguatan nilai keagamaan secara inklusif.
BACA JUGA:MTQ XXXII Tulungagung Resmi Dibuka, Diikuti 470 Peserta dari 19 Kecamatan
Ketua LPTQ Kabupaten Lamongan Moh Nalikan mengatakan, penyelenggaraan MTQ Difabel merupakan bentuk konsistensi pemerintah daerah bersama lembaga terkait dalam memberikan ruang pembinaan keagamaan bagi penyandang disabilitas.
"Ini luar biasa, Pemkab Lamongan, LPTQ, dan Griya Qur'ani secara istiqamah melaksanakan MTQ Difabel se-Jawa dan Bali, pada tahun ini diikuti seratus kafilah," ujar Nalikan.
Menurutnya, semangat membaca dan menghafal Alquran tidak hanya dikembangkan melalui kompetisi, tetapi juga terus didorong melalui pembinaan di lingkungan sekolah.
BACA JUGA:Kafilah Situbondo Juara Umum MQK International Ke-8 Tahun 2025 di Wajo Sulsel
"Seiring dengan program Lamongan Nyantri, semangat membaca dan menghafal Alquran juga terus kita dorong di sekolah-sekolah. Pembinaan seperti ini penting agar teman-teman difabel bisa belajar, menghafal, dan memahami Alquran secara inklusif," jelasnya.
Selain menjadi ajang kompetisi, MTQ Difabel 2026 diharapkan mampu memperluas kesempatan penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan keagamaan sekaligus memperoleh ruang partisipasi yang setara.
Meski demikian, penyelenggaraan kompetisi tersebut turut memunculkan pertanyaan dari sebagian masyarakat mengenai keberlanjutan pembinaan setelah perlombaan berakhir.
Sorotan tersebut berkaitan dengan akses pendidikan agama ramah penyandang disabilitas di tingkat masyarakat yang dinilai masih terbatas.
BACA JUGA:4.000 Hafidz-Hafidzah Khatamkan Alquran 810 Kali, Khofifah Munajat untuk Jatim Berkah
Sumber:








