Kepala Bakorwil Malang Paparkan Fondasi Malang Raya Megapolitan
Kepala Bakorwil Malang Asep Kusdinar memaparkan konsep Malang Raya megapolitan.--
MALANG, MEMORANDUM.CO.ID - Membangun MALANG Raya menuju kawasan megapolitan bukan semata-mata tentang memperluas kawasan perkotaan, membangun infrastruktur, atau meningkatkan konektivitas antardaerah. Lebih dari itu, transformasi kawasan membutuhkan integrasi potensi desa dan kota agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Perspektif tersebut disampaikan Kepala Badan Koordinasi Wilayah Pemerintahan dan Pembangunan (Bakorwil) III Malang Asep Kusdinar, saat menjadi dosen praktisi, Selasa 13 Oktober 2026.
Di hadapan mahasiswa Program Doktor (S3) Departemen Ilmu Pertanian, Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya. Dalam kesempatan tersebut, Asep memaparkan fondasi dan pilar menuju Malang Raya Megapolitan, dengan menekankan pentingnya membangun keterhubungan antara pusat-pusat perkotaan dan kekuatan ekonomi perdesaan.
BACA JUGA:Semarak Hari Jadi Jatim ke-81, Bakorwil Malang Gelar LPBB dan Festival Anak
Menurut Asep, Malang Raya memiliki karakter wilayah yang saling melengkapi. Kota Malang memiliki potensi pendidikan, jasa, perdagangan, dan ekonomi kreatif. Kota Batu memiliki kekuatan pada sektor pariwisata dan pertanian, sedangkan Kabupaten Malang memiliki bentang wilayah yang luas dengan potensi pertanian, perkebunan, industri, kehutanan, kelautan, dan pariwisata.

Mini kidi--
Keragaman tersebut menjadi modal pembangunan apabila dikelola dalam satu kesatuan ekosistem ekonomi dan kewilayahan.
BACA JUGA:Hadapi Ancaman Kekeringan, Bakorwil Malang Perkuat Koordinasi BPBD dengan Tata Kelola Logistik
“Megapolitan tidak boleh hanya dimaknai sebagai pertumbuhan kota. Kita harus membangun hubungan yang saling menguatkan antara kota dan desa. Kota menjadi pusat inovasi, perdagangan, jasa, dan pengembangan teknologi, sedangkan desa memiliki kekuatan pada produksi pangan, perkebunan, sumber daya alam, serta ekonomi berbasis potensi lokal. Keduanya harus terhubung dan tumbuh bersama,” jelas Asep.
Arah pembangunan wilayah Jawa dalam kerangka pembangunan nasional menekankan terwujudnya megalopolis yang unggul, inovatif, inklusif, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dalam konteks Malang Raya, visi tersebut membutuhkan pendekatan pembangunan yang tidak berhenti pada integrasi infrastruktur, tetapi juga mencakup integrasi ekonomi, sumber daya manusia, teknologi, dan pasar.
Di sinilah desa memiliki posisi strategis. Desa tidak cukup ditempatkan sebagai wilayah penyangga yang menyediakan kebutuhan kawasan perkotaan. Desa perlu diperkuat sebagai pusat produksi, inovasi lokal, kewirausahaan, dan penciptaan nilai tambah.
BACA JUGA:Kepala Bakorwil Malang Dorong Kopi Amstirdam Naik Kelas, Komoditas Lokal Menuju Brand Global
Potensi pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, serta perikanan perlu dihubungkan dengan teknologi, akses pembiayaan, jaringan distribusi, industri pengolahan, dan pasar yang lebih luas. Dengan demikian, produk desa tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat berkembang menjadi komoditas bernilai tambah yang meningkatkan pendapatan masyarakat.
Keberadaan 67 perguruan tinggi negeri dan swasta di Malang Raya juga membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan riset terapan, teknologi pertanian, digitalisasi usaha, dan inovasi produk lokal. Pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat desa.
Sumber:








