Cinta yang Kalah oleh Waktu (2): Antara Janji dan Palu Sidang sebelum Lebaran
-Ilustrasi-
Waktu berjalan lebih cepat daripada tabungan Koko. Pertanyaan-pertanyaan merayap naik dari cangkir-cangkir kopi yang tandas: Kapan? Sampai kapan?
BACA JUGA:Cinta yang Kalah oleh Waktu (1): Cinta yang Tumbuh di Antara Serbuk Kayu
Koko membeku setiap kali Dira menagih kepastian. Bukan karena ia tak mencintai perempuan itu—wajah Dira adalah satu-satunya peta masa depan yang ia punya.

Mini kidi--
Tapi dunia luar menuntut lebih dari sekadar cinta; dunia menuntut meterai, biaya sewa rumah, dan kesiapan mental yang entah mengapa, hingga detik itu, belum juga singgah di kepala Koko. Ia merasa belum cukup.
Sementara Dira, dengan segala kewajaran kodratnya, mulai lelah menatap kekosongan.
BACA JUGA:Cinta Menyamar Jadi Ketakutan (1): Ilusi Kelembutan yang Menoreh Luka
Keluarga mulai bersuara. Dan suara keluarga adalah palu sidang yang paling pukulannya paling telak. Sore itu, menjelang Lebaran yang seharusnya menjadi lembaran suci, Koko duduk di ruang tamu rumah Dira.
“Ko, hubungan kalian sudah berapa lama?”
Koko menjawab dengan sopan.
“Sudah lama, Pak.”
BACA JUGA:Cinta Menyamar Jadi Ketakutan (2): Menolak Jadi Juru Selamat di Atas Reruntuhan Jiwa
“Kalau begitu, kamu serius sama Dira?”
“Serius.”
Sumber:








