Miris, Janda Lansia di Jalan Tapak Siring Surabaya Luput dari Bansos
Suasana pemukiman warga di Jalan Tapak Siring yang berdiri di atas tanah PT KAI.--
SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Lilik Purhajati Ningsih (61), janda lansia warga Jalan Tapak Siring 12A, RT 04/RW 08, Kelurahan Pacar keling, Kecamatan Tambaksari, SURABAYA, mengaku belum pernah menerima bantuan sosial selama tiga tahun sejak suaminya meninggal.
Berdasarkan informasi dari Lilik, di wilayah Jalan Tapak Siring terdapat empat orang janda yang nasibnya sama dan belum pernah menerima bantuan sama sekali. Padahal, Lilik dan para janda lainnya merupakan warga asli Surabaya.
Tanpa penghasilan serta anak-anak yang tinggal jauh di luar kota, ia harus bertahan hidup mengandalkan kebaikan hati tetangganya.
Ditemui Memorandum, Lilik menceritakan alasan yang kerap ia dengar mengenai tidak adanya bansos di pemukimannya karena adanya pandangan bahwa kawasan Tapak Siring dihuni oleh warga mampu, padahal kondisi aslinya sangat berbanding terbalik.
"Katanya dari pihak kelurahan sini sudah berkecukupan, padahal sebenarnya yang mampu itu kampung sebelah, rumahnya besar-besar dan bisa dikontrakkan sampai Rp 40 juta, tapi rumah sini apa yang disewakan, kami tinggal di atas tanah PT KAI, kalau disamakan, jelas beda," ujar Lilik, Selasa 29 September 2029.
BACA JUGA:Wali Kota Eri Cahyadi Ubah Pola Bansos Surabaya, Tak Lagi Hanya Berpatokan Desil

Mini kidi--
Ia menambahkan, total lima janda berstatus ekonomi menengah ke bawah termasuk dirinya selalu luput dari daftar penerima bantuan dan kelimanya tidak pernah menerima bantuan tunai maupun sembako seperti beras.
Ia teringat saat suaminya masih hidup, keluarganya sempat terdata dan dijanjikan mendapatkan bantuan.
"Waktu didata, saya sampai terharu nangis tapi sampai suami saya sakit-sakitan lalu meninggal tiga tahun lalu, bantuan itu tidak pernah ada wujudnya, demi Allah, tidak pernah dapat sama sekali," tegasnya.
Lebih lanjut, Lilik mengungkapkan kondisi yang semakin menurun membuat dirinya kesulitan untuk mengurus Identitas Kependudukan Digital (IKD) ke kelurahan sehingga kini hanya bisa pasrah.
"Saya tidak sekolah, tidak mengerti urusan berkas begitu. Kaki saya sakit, kalau jalan jauh harus pakai tongkat, lagipula kalau bolak-balik ngurus tapi tidak dianggap, rasanya malu ya sudah saya pasrah," tuturnya.
BACA JUGA:DPRD Surabaya Minta ASN Eksekusi Instruksi Wali Kota Soal Bansos

Gempur Rokok Illegal--
Sumber:







