iklan umroh banner
iklan ucapan polri-2
pupuk
iklan ulta memorandum

Bayang Cinta Tanpa Kepastian (2): Garis Batas Masa Lalu dan Masa Depan

Bayang Cinta Tanpa Kepastian (2): Garis Batas Masa Lalu dan Masa Depan

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Di tengah remang-remang kegelisahan itulah, ingatan tentang masa lalu merayap kembali. Suatu malam, sebuah pesan singgah di ponsel Umar. “Apa kabar?” Umar tertegun sejenak, merasakan detak jantungnya bergeser setengah inci. “Baik. Kamu?”

Percakapan itu seharusnya mati di situ, menjadi abu. Tapi Sasa meniupnya agar kembali membara. “Kamu bahagia?” tanya Sasa, suaranya seolah merayap lewat getar layar. Umar terdiam lama di balik bilik waktu. “Kenapa tiba-tiba tanya begitu?” “Gak apa-apa. Cuma tanya.”

Di dalam lubuk hatinya yang paling sunyi, ia mulai menimbang-nimbang dua timbangan. Ibra memang mencintainya setengah mati, tetapi jalan mereka berbeda. Sedangkan Umar lelaki itu menawarkan kesamaan yang dulu pernah mereka miliki. Perpisahan mereka dulu murni karena jarak, bukan karena prinsip yang bertubrukan.

BACA JUGA:Bayang Cinta Tanpa Kepastian (1): Terjebak di Bayang-Bayang Masa Lalu


Mini kidi--

Badai pecah ketika Ibra mencium aroma masa lalu itu. Ia tahu Sasa kembali menengok ke belakang. “Kenapa kamu cari-cari kabar dia?” “Cuma teman.” “Mantan kamu.” “Terus?” “Jangan anggap aku bodoh, Sa.”

Pertengkaran malam itu menjadi badai. Sasa, yang sudah kehabisan napas dalam ketidakpastian hubungannya dengan Ibra, melemparkan kalimat yang membuat lelaki itu kehilangan akal sehat: “Kalau kita memang gak punya jalan ke depan, mungkin lebih baik selesai.” “Tidak.” “Ibra…” “Aku gak mau putus.” “Kita gak bisa terus begini.”

Ibra merendah, memohon, mencengkram sisa-sisa hubungan yang hampir rebah. Namun ketakutan kehilangan itu berbalik menjadi amarah yang membakar. Dan di mata Ibra, satu-satunya duri dalam daging itu adalah Umar. Malam itulah pesan ancaman itu dikirimkan: “Jangan ganggu Sasa lagi.”

BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (6): Tiga Dasawarsa Menemukan Jalan Pulang


Gempur Rokok Illegal--

Sebenarnya, Umar punya seribu satu cara untuk membalikkan keadaan. Ia bisa menunjukkan siapa yang pertama kali menyapa. Ia bisa membongkar bagaimana Sasa diam-diam mencari tahu tentang kehidupannya lewat orang lain. Tapi Umar memilih diam. Ia menelan semuanya, lalu membalas singkat: “Urus hubungan kalian baik-baik. Jangan libatkan aku.”

Yang tidak diketahui oleh Sasa maupun Ibra adalah kenyataan bahwa Umar telah bahagia bersama kekasih barunya yang sedang berproses menjadi mualaf untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Di ujung cerita, di kamarnya yang senyap, Sasa yang dilanda dilema mencoba mengirim pesan kepada Umar: “Mar, kamu benar-benar sudah bahagia sekarang?”

Pesan itu terkirim ke dalam hampa udara. Tanpa ada balasan, Sasa akhirnya menyadari kenyataan pahit bahwa lelaki dari masa lalunya itu kini telah benar-benar berjalan pergi dan tak lagi menunggunya. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait