iklan ulta memorandum

Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (6): Tiga Dasawarsa Menemukan Jalan Pulang

Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (6): Tiga Dasawarsa Menemukan Jalan Pulang

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Malam itu, dalam keheningan yang jujur, mereka duduk berdua. Tanpa kelopak mawar, tanpa bungkusan kado berpita. Hanya dua jiwa yang telah terlampau lelah bersembunyi di balik ego masing-masing. “Aku capek, Ka.” Eka tersenyum lembut. “Capek sama aku?” Isa menggeleng. “Capek lari.”

Eka terdiam, membiarkan keheningan merajut makna. Isa menatapnya lekat. “Tiga puluh tahun kita begini terus.” “Iya.” “Ketemu. Bersama. Pisah. Balik. Pisah lagi.” “Iya.” “Aku gak mau begitu lagi.” Eka menunduk, kepedihan sempat melintas di matanya, menyangka kalimat itu adalah vonis akhir bagi kebersamaan mereka. “Kalau itu keputusanmu, aku—” “Siapa bilang aku mau pergi?”

Eka mengangkat wajahnya dengan sentakan kecil. Isa tersenyum, sementara air mata menetes begitu saja di pipinya. “Kali ini aku mau mencoba.” Eka terpaku, seolah tak percaya pada pendengarannya sendiri. “Serius?” “Tapi jangan bikin aku menyesal.”

BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (5): Dua Belah Tangan yang Berhenti Pergi


Mini kidi--

Eka tertawa kecil, suara yang bergetar menahan haru. “Aku gak berani janji kita gak akan pernah bertengkar.” “Bagus.” “Aku juga gak berani janji aku akan selalu benar.” “Memang gak pernah.” “Isa!” Tawa kembali pecah. Untuk sedetik, mereka menjelma kembali menjadi sepasang anak muda yang saling melemparejek di beranda masa lalu.

Lalu Eka berucap pelan, sungguh-sungguh dari dasar rongga dadanya. “Aku cuma bisa janji satu.” Isa menatapnya penuh harap. “Kalau ada masalah, kita selesaikan.” “Kalau kita marah, kita bicara.” Eka meraih tangan Isa, menggenggamnya erat-erat. “Tapi kali ini, aku gak akan memilih pergi.”

Isa tidak membalas lewat kata. Ia hanya mempererat tautan jemarinya pada telapak tangan Eka. Dan barangkali, itulah jawaban paling paripurna yang selama ini dicari oleh semesta mereka. Isa akhirnya mengerti. Eka bukanlah hantu masa lalu yang harus dikubur dalam-dalam; Eka adalah rumah tempat ia belajar bertumbuh sebelum benar-benar siap pulang.

BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (4): Berdamai dengan Bayangan Masa Lalu


Gempur Rokok Illegal--

Dan Eka, setelah tiga puluh tahun yang sia-sia, akhirnya menemukan kebenaran mutlak: jangan pernah hanya singgah saat musim sedang ranum. Hadirlah, terutama ketika dunia sedang berpaling darinya. Mereka membutuhkan waktu tiga puluh tahun hanya untuk mengeja sebuah kesimpulan yang teramat sederhana.

Barangkali, cinta pertama memang bukan takdir terakhir. Namun setelah tersesat sekian lama, terkadang kita memang hanya butuh pulang ke pelukan yang sama. (atp/rdh/fer/habis)

Sumber:

Berita Terkait