Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (5): Dua Belah Tangan yang Berhenti Pergi
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Isa tidak pernah menyatakan penerimaan. Tidak ada tanggal dalam kalender yang disepakati untuk memulai kembali sandiwara yang sama. Tidak ada ikrar berkilat, tiada seremonial. Semuanya mengalir begitu saja, sewajarnya air mencari celah terendah.
Suatu malam, ketegangan itu meletup lagi. Eka mendengus. Isa meradang. “Kamu itu dari dulu kalau dikasih tahu susah!” “Kamu juga dari dulu kalau ngomong maunya menang sendiri!” Udara di dalam ruangan terasa membara. Isa terpekur. Nalurinya telah menghafal skenario usang ini: Eka akan beranjak, membanting pintu, lalu menghilang seperti kabut pagi.
Isa menatapnya dengan sisa-sisa keheranan. “Kenapa?” “Kok gak pulang?” Eka menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. “Kita belum selesai ngomong.” “Kamu marah.” “Iya.” “Biasanya kalau marah kamu pergi.” Eka menatapnya lekat-lekat selama beberapa detik, menembus lapisan-lapisan defensif di mata perempuan itu. “Aku boleh marah tanpa meninggalkan kamu, kan?”
BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (4): Berdamai dengan Bayangan Masa Lalu

Mini kidi--
Kalimat sederhana itu membuat Isa kehilangan kata-kata setelah tiga puluh tahun perjalanan mereka. Hubungan mereka memang tidak sempurna. Keduanya masih sering membawa luka lama, tetapi kini tanpa ada yang berusaha pura-pura. “Aku tahu jeleknya kamu,” kata Isa suatu hari.
Eka tertawa. “Aku juga tahu jeleknya kamu.” “Kok malah ngomong aku jelek?”Isa melotot. “Bukan mukanya.” “Terus?” “Kelakuannya.” Setelah tiga puluh tahun, cinta tidak lagi berupa kata-kata romantis, melainkan dua orang yang menerima kekurangan masing-masing dan memilih duduk di meja yang sama. Keluarga mereka pun sudah terbiasa dengan kembalinya keduanya.
“Kalian ini akhirnya balik lagi?” tanya salah seorang keluarga. Isa buru-buru menjawab, “Belum.” Eka langsung menyahut, “Kalau saya sih sudah dari kemarin-kemarin.”
BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (3): Air Mata Lunturkan Dinding Batas

Gempur Rokok Illegal--
Isa mencubit lengannya. “Jangan ngomong sembarangan.” Eka berbisik, “Aku serius.” Hingga suatu malam, Isa menanyakan hal yang selama ini mengganjal, “Aku capek, Ka.” Eka tersenyum. “Capek sama aku?” Isa menggeleng. “Capek lari.”
“Tiga puluh tahun kita begini terus.” “Iya.” “Ketemu. Bersama. Pisah. Balik. Pisah lagi.” “Iya.” “Aku gak mau begitu lagi.” Eka mengira Isa ingin berpisah. “Kalau itu keputusanmu, aku—” “Siapa bilang aku mau pergi?” Isa tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Kali ini aku mau mencoba. Tapi jangan bikin aku menyesal.” Eka tertawa kecil. “Aku gak berani janji kita gak akan pernah bertengkar.” “Bagus.” “Aku juga gak berani janji aku akan selalu benar.” “Memang gak pernah.” “Isa!”
Eka kemudian berkata pelan, “Aku cuma bisa janji satu. Kalau ada masalah, kita selesaikan. Kalau kita marah, kita bicara. Tapi kali ini, aku gak akan memilih pergi.” Isa menggenggam tangan Eka lebih erat. Tiga puluh tahun membawa mereka pada satu pemahaman: cinta bertahan bukan karena tanpa kesalahan, tetapi karena setelah semuanya, mereka masih memilih untuk tinggal. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:







