pupuk
iklan ulta memorandum

Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (3): Air Mata Lunturkan Dinding Batas

Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (3): Air Mata Lunturkan Dinding Batas

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Hubungannya bukan lagi tentang pameran kebahagiaan di beranda media sosial. Di balik dinding rumah itu, Isa masih memasang jarak yang tak terlihat. Kadang pesannya hangat, mengalir seperti kopi di pagi hari, tetapi esoknya membeku menjadi es batu yang asing.

Eka tahu, perempuan itu sedang menimbang-nimbang pecahan kaca masa lalu. Isa tidak sedang bermain-main; ia hanya ingin memastikan apakah lelaki di hadapannya ini masih menyimpan hobi lama: kabur ketika keadaan mulai terasa rumit.

Sore itu, di sebuah sudut ruang tamu yang saksi bisu segala lelah, pertengkaran kecil meletus. Masalahnya sepele, sepele debu di ambang pintu, tapi luka lama pandai memperbesar segalanya.

“Kamu gak berubah, Ka!” 

“Sedikit-sedikit maunya kamu sendiri.” "Aku cuma kasih pendapat.” "Begitulah kamu dari dulu.”

BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (2): Ketika Hantu Masa Lalu Datang Mengetuk


Mini kidi--

Eka mengambil kunci mobil, membuat Isa menduga ia akan pergi lagi. Namun, Eka mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali kunci tersebut. "Aku gak pergi.” "Kamu sudah pegang kunci.” 

“Aku cuma mau keluar sebentar supaya kita sama-sama tenang.” "Sama saja.”  “Oke.” "Oke apa?” “Aku di sini.” “Ka…” "Kamu marah saja sampai selesai. Aku dengarkan.”

Beberapa hari kemudian, Isa menghadapi masalah seorang diri dan menolak bantuan Eka.

“Aku bisa urus sendiri.” "Kamu gak perlu cerita kalau belum mau.” "Tapi kalau butuh aku, bilang.”

Namun, saat bebannya kian menumpuk, Isa akhirnya menelepon Eka. “Halo?” “Sa?” “Aku lagi ada masalah.” “Aku ke sana.”

Eka datang dan menemani Isa tanpa banyak menuntut. Sambil menatap cangkir teh, Isa mengungkapkan keheranannya.

BACA JUGA:Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (1): Kisah yang Menolak Selesai

Sumber:

Berita Terkait