pupuk
iklan ulta memorandum

Pemkot Pasuruan Luncurkan Program Bergegas, Entaskan 1.905 Anak Tidak Sekolah

Pemkot Pasuruan Luncurkan Program Bergegas, Entaskan 1.905 Anak Tidak Sekolah

Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo saat peluncuran program Bergegas.--

PASURUAN, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Pemerintah Kota PASURUAN meluncurkan program Bergegas (Bergerak Bersama Mengentaskan Angka Anak Tidak Sekolah) untuk memperkuat kolaborasi dalam memastikan setiap anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan, Selasa 22 September 2026.

Peluncuran program berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja. Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menegaskan, persoalan anak tidak sekolah (ATS) tidak boleh berhenti pada angka dalam data.

“Ini bukan soal angka, bukan soal deret angka. Tetapi ini juga menjadi alat ukur untuk melihat sejauh mana Kota Pasuruan masih memiliki anak-anak yang belum mendapatkan kesempatan untuk sekolah,” tegasnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam peluncuran Bergegas, pada 1 September 2026 data awal ATS tercatat sebanyak 2.565 anak. Setelah dilakukan pendataan dan penelusuran di lapangan, jumlah tersebut menjadi 2.230 anak per 16 September 2026.

Selanjutnya, setelah melalui proses verifikasi dan validasi, jumlah data pada dashboard ATS menjadi 1.905 anak. Data tersebut terdiri atas 653 anak dalam kategori lulus tidak melanjutkan (LTM), 656 anak drop out (DO), dan 596 anak belum pernah sekolah (BPB).

BACA JUGA:Pemkot Pasuruan Targetkan CKG 100 Persen, Pastikan Kesehatan Siswa Sejak Dini


Mini kidi--

Dari 2.230 data sebelumnya, sebanyak 325 data berkurang setelah proses verifikasi dan validasi, terdiri atas 146 data ganda serta 179 data yang tidak ditemukan atau bukan merupakan penduduk Kota Pasuruan.

Wali Kota menilai keberadaan 1.905 anak dalam dashboard ATS setelah proses verifikasi dan validasi menjadi perhatian serius. Karena itu, data ATS perlu dipetakan secara rinci hingga tingkat kecamatan, kelurahan, RW, dan RT untuk memastikan keberadaan serta kondisi masing-masing anak.

“Data 653 anak yang kategori lulus tidak melanjutkan ini harus dipetakan ada di kecamatan mana, kelurahan mana, RW mana, sampai RT mana. Semua harus kita petakan secara detail sehingga kita betul-betul menemukan fakta di lapangan,” jelasnya.

Menurut Adi Wibowo, persoalan ATS memiliki penyebab yang beragam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan ATS tidak dapat menggunakan satu pendekatan yang sama, melainkan harus disesuaikan dengan persoalan masing-masing anak.

“Intervensinya tidak bisa general, tetapi harus spesifik dengan problem-problem yang dihadapi oleh anak-anak yang tidak sekolah tersebut,” tegasnya.

BACA JUGA:Anugerah Pajak Daerah 2026, Pemkot Pasuruan Apresiasi Wajib Pajak Taat


Gempur Rokok Illegal--

Sumber: