Riwayat Cinta yang Lelah Berlari (1): Kisah yang Menolak Selesai
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Waktu adalah penipu ulung yang sering berkedok sebagai kenangan. Tiga puluh tahun bukanlah angka yang bisa disapu begitu saja dengan sapu ijuk di sudut rumah; ia adalah tumpukan debu tebal yang saat diinjak akan mengepulkan batuk dan air mata.
Bagi Isa, Eka bukan lagi sekadar mantan kekasih yang fotonya bisa dirobek lalu dibuang ke tempat sampah. Lelaki itu adalah sebuah alamat lama di kota yang sudah berubah total—tempat di mana ia pernah tersesat, menangis, lalu belajar pulang sendirian.
Mereka bertemu saat darah masih bergemuruh oleh hal-hal sepele: pernah berpasangan, berantakan, berpisah, lalu merangkak kembali dalam pelukan yang sama, seolah hidup ini adalah sebuah lingkaran setan yang tak tahu di mana pintu keluarnya.
Namun, sejarah Isa dipenuhi oleh lubang peluru. Eka adalah penembak jitu yang piawai memilih waktu: ia selalu datang saat cuaca cerah dan pergi tepat ketika badai melanda. Ketika Isa merangkak sendirian di lantai kamar yang dingin karena beban hidup yang menghimpit, bayangan Eka menguap.
BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (6): Akhir Sebuah Dermaga Cinta

Mini kidi--
Tapi begitu dunia Isa kembali wangi oleh kemapanan dan senyum, lelaki itu muncul membawa aroma rindu yang memuakkan. “Setiap aku sudah mulai percaya sama kamu, kamu pergi,” ucap Isa suatu hari, dan kalimat itu telah dihafal Eka di luar kepala seperti doa yang salah alamat.
Isa akhirnya belajar satu ilmu paling mujarab dari hubungan mereka: mencintai Eka sama artinya dengan menandatangani surat kematian perasaanmu sendiri. Maka Isa berhenti. Ia menutup tirai. Tahun-tahun berganti tanpa permisi, membawa 2026 ke beranda mereka dengan segala kejutannya. Dan Eka, seperti hantu penasaran, kembali. Bukan sekadar menaruh jejak di kolom komentar media sosial, melainkan berdiri nyata di depan mata, menuntut waktu yang telah mereka rampas dari satu sama lain. “Aku mau kita kembali,” kata Eka, tanpa beban.
Isa tertawa, tawa yang kering dan getir. “Kamu serius?” “Serius.” “Setelah semuanya “Iya.” Isa menggeleng, menatap lelaki yang garis-garis di wajahnya telah dikerjakan oleh usia. “Terlambat, Ka.” “Kenapa?”
BACA JUGA:Dermaga Cinta Berduri (5): Luka yang Tak Berpamitan

Gempur Rokok Illegal--
Pertanyaan itu bodoh, tapi Eka mengucapkannya dengan polos seolah ia lupa bahwa ia adalah algojonya sendiri. “Kamu masih tanya kenapa?”
Eka terdiam, menunduk pada sepatu kotorkannya sendiri. “Aku sudah capek mengulang cerita yang sama,” lanjut Isa. “Kali ini gak akan sama.” “Kamu selalu bilang begitu setiap kali kembali.”
Pesan-pesan datang bertubi-tubi setelah hari itu. Telepon berdering di jam-jam ganjil. Perhatian-perhatian kecil yang dulu menjadi candu, kini terasa seperti racun yang diolesi madu. “Sudah makan?” “Jangan pulang terlalu malam.” “Kalau ada apa-apa bilang.”
Sumber:







