Harlah Kejaksaan RI
iklan ulta memorandum

Ketika Game Jadi Orang Ketiga (6): Air Mata di Ujung Penyesalan

Ketika Game Jadi Orang Ketiga (6): Air Mata di Ujung Penyesalan

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--

Hari ulang tahun Nadira tiba membawa sejuta harap yang disia-siakan. Janji manis untuk merajut malam romantis berdua diabaikan begitu saja. “Aku jemput jam tujuh,” bisik Wisnu kala itu.

Nadira bahkan telah membalut tubuhnya dengan gaun sederhana demi menyambut malam istimewa. Pukul tujuh lewat, bayangan Wisnu tak kunjung menjelma. Setengah delapan. Delapan malam. Pesan-pesan lirih Nadira dibiarkan membeku tanpa balasan, tertelan hiruk-pikuk turnamen besar bersama rekan satu tim di dunia maya.

Janji makan malam ulang tahun Nadira kandas karena Wisnu lebih memilih turnamen game. Pukul sepuluh malam, panggilan tak terjawab baru dibalas dengan alasan, “Nad, maaf.” “Kamu lupa?” “Enggak. Tadi game-nya gak bisa ditinggal.”

BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (5): Realita Pahit Pecandu Game


Mini kidi--

Nadira yang lelah menunggu akhirnya menyerah. “Nad…” “Aku sudah pulang.” “Besok kita ganti.” “Selalu besok.” “Nadira, aku minta maaf.” “Aku tahu.” “Terus kenapa?” “Karena aku akhirnya sadar aku menunggu seseorang yang selalu merasa masih punya waktu untuk berubah.”

Keesokan harinya, Nadira mengembalikan semua barang Wisnu. “Kamu mau putus?” “Aku mau berhenti.” “Berhenti apa?” “Menunggu.” “Aku gak pernah minta kamu berhenti main game. Aku gak pernah minta semua uangmu buat aku. Aku cuma ingin punya pasangan yang tahu mana hiburan dan mana kehidupan.”

Wisnu memohon kesempatan, namun Nadira menolak. “Aku bisa berubah.” “Itu yang paling menyakitkan.” “Apa?” “Kamu selalu bilang bisa berubah setelah hampir kehilangan aku. Tapi ketika aku masih bertahan, kamu gak pernah merasa perlu.” “Kasih aku satu kesempatan lagi.” “Aku sudah memberikannya berkali-kali.”

BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (4): Pilihan Terakhir di Atas Kaca Ponsel


Gempur Rokok Illegal--

Hari itu Nadira pergi selamanya. Beberapa bulan berselang, Wisnu benar-benar berubah. Top up game berkurang dan pengeluarannya mulai tertata. Rekannya bertanya, “Kenapa baru sekarang?” “Karena sekarang gue tahu harga sebenarnya.” “Harga apa?” “Gue pikir selama ini yang gue buang cuma uang. Ternyata bukan.”

Melihat potret bahagia Nadira di media sosial, Wisnu sempat mengetik pesan, “Apa kabar?”, namun ia segera menghapusnya. Wisnu menutup ponselnya rapat-rapat. Ia akhirnya meresapi arti sesungguhnya dari kalimat lamanya, “Cuma game.” Game memang sekadar permainan layar kaca, namun keputusan yang diambil karenanya mampu menghancurkan dunia nyata—membuatnya menang di dalam layar, tetapi kalah kehilangan orang yang paling berharga. (atp/rdh/fer/habis)

 

Sumber:

Berita Terkait