Harlah Kejaksaan RI
iklan ulta memorandum

Desil Warga Surabaya Naik Mendadak, DPRD Soroti Akurasi Data Penerima Bansos

Desil Warga Surabaya Naik Mendadak, DPRD Soroti Akurasi Data Penerima Bansos

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya Imam Syafi’i menyoroti akurasi data desil warga.--

SURABAYA, MEMORANDUM.DISWAY.ID – DPRD Kota Surabaya menyoroti perubahan desil warga yang mendadak meningkat meski sebelumnya masuk kategori miskin atau pramiskin dalam rapat dengar pendapat bersama sejumlah instansi, Rabu 2 September 2026.

Persoalan tersebut dibahas dalam rapat dengar pendapat (hearing) Komisi D DPRD Surabaya bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surabaya, Dinas Sosial, Dinas Kependudukan, serta Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya.

BACA JUGA:Data Desil Belum Sinkron, BPS Surabaya Sebut Masih Tunggu Data Kemensos

Anggota Komisi D Kota DPRD Surabaya Imam Syafi’i mengatakan, hearing digelar untuk meminta penjelasan mengenai dasar penentuan desil sekaligus mencocokkannya dengan kondisi masyarakat di lapangan.


Mini kidi--

Menurut dia, perubahan desil perlu mendapat perhatian karena berpengaruh terhadap peluang warga memperoleh berbagai program bantuan pemerintah.

“Banyak warga mengeluh. Semula desilnya rendah, kemudian tiba-tiba menjadi tinggi. Padahal mereka sebelumnya masuk kategori miskin dan pramiskin,” ujar Imam.

Dalam rapat tersebut, DPRD juga mempertanyakan metodologi yang digunakan BPS dalam menentukan desil. Salah satu yang disoroti adalah penggunaan metode proximity test.

BACA JUGA:Mahasiswi Berprestasi Terancam Gagal dapat Beasiswa, Cak Ji Sidak BPS Surabaya Soroti Data Desil

Imam menyebut, berdasarkan penjelasan dalam hearing, margin of error metode tersebut secara umum berada di kisaran 23 persen. Angka tersebut dinilai cukup besar sehingga berpotensi membuat kondisi ekonomi warga tidak sepenuhnya tergambarkan secara akurat.

“Margin error yang besar itu harus dicarikan solusi. Jangan sampai warga yang sebenarnya berada di kelompok bawah justru terbaca berada di desil yang lebih tinggi,” katanya.

Selain metodologi, sejumlah indikator penentu desil juga menjadi perhatian. Di antaranya kepemilikan aset, sumber air, hingga penggunaan listrik.

Imam menilai indikator tersebut perlu dilihat secara proporsional dengan karakteristik masyarakat perkotaan.

BACA JUGA:Soroti Akurasi Sistem Desil Penentu Bansos dan Beasiswa, DPRD Surabaya: Mahasiswa IPK 4 Bisa Putus Kuliah

Sumber:

Berita Terkait