Ketika Game Jadi Orang Ketiga (4): Pilihan Terakhir di Atas Kaca Ponsel
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Hari-hari berlalu membawa penyesalan semu. Wisnu sempat berjanji pada diri sendiri untuk berhenti sebulan penuh, didukung penuh oleh teman-temannya agar ia bisa membuktikan siapa yang memegang kendali. Minggu pertama berhasil, minggu kedua berjalan mulus, hingga sebuah event berdarah dingin muncul menggoda iman. Item langka terpampang nyata di layar, meruntuhkan pertahanan Wisnu dalam sekejap.
Bencana itu meledak di sebuah rumah makan ketika kartu kredit Wisnu ditolak mesin kasir. “Kok gak bisa?” tanya Nadira kebingungan. “Error mungkin.”. “Coba lagi.” Tetap ditolak. Nadira menatap tajam, menembus manik mata lelaki yang duduk di hadapannya. “Nu…”
Wisnu menghindari tatapan itu. “Kamu top up lagi?” Diam membisu menjadi jawaban. “Jawab aku.” “Cuma sekali.” “Berapa?” Angka-angka dusta itu akhirnya rontok, menunjukkan nominal sesungguhnya yang membuat wajah Nadira berubah pucat pasi, bukan karena amarah, melainkan karam dalam kekecewaan yang teramat dalam.
BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (3): Saat Gaji Habis dan Cinta Mulai Menipis

Mini kidi--
“Kamu bohong.” “Aku takut kamu marah.” “Bukan,” Nadira menggeleng pelan, air matanya tumpah ruah. “Kamu bohong karena kamu tahu yang kamu lakukan salah, tapi kamu tetap memilih melakukannya.”
Wisnu terpaku, kelu tak bersuara. “Kalau soal uang saja sekarang kamu sudah sembunyi-sembunyi, bagaimana nanti kalau kita menikah?” “Nadira, cuma game!” sergah Wisnu membela diri. Nadira menatapnya nanar, menyayat hati siapa pun yang mendengar. “Kalau memang cuma game……kenapa kamu rela bohong ke aku demi mempertahankannya?”
Malam merangkak pekat ketika sebuah pesan singkat dari Nadira masuk ke ponsel Wisnu, membawa keheningan yang mencekam. “Aku gak akan lagi menyuruh kamu berhenti main.” “Terus?” balas Wisnu cepat. “Aku juga gak akan lagi mengatur uangmu.”
BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (2): Ketika Candu Game Runtuhkan Masa Depan Hubungan

Gempur Rokok Illegal--
Entah mengapa, kalimat itu justru menyengat sukma Wisnu dengan ketakutan yang tak bertepi. “Aku cuma mau lihat satu hal: kalau tidak ada yang mengingatkanmu, kamu akan memilih berubah sendiri atau tidak.” Di saat bersamaan, sebuah notifikasi gemerlap menyala terang di layar ponselnya: EVENT TERBATAS — HADIAH EKSKLUSIF HANYA MALAM INI.
Dua dunia bertarung di atas kaca ponsel yang sama; satu dari perempuan yang setia menunggu masa depan, satu lagi dari bayang-bayang maya yang membuai jiwa. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Wisnu gemetar menyadari bahwa sebentar lagi ia mungkin harus memilih kehilangan salah satunya untuk selamanya. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:







