Ketika Game Jadi Orang Ketiga (3): Saat Gaji Habis dan Cinta Mulai Menipis
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga game--
Nadira sudah penat, lelah digelayut letih yang teramat sangat, mendepak hampa ke ruang dada yang kian lama kian sempit. Setiap ia menegur, ujung-ujungnya selalu sama, kusut dan berujung air mata yang tak pernah dihargai.
Wisnu merasa dikekang, menganggap Nadira terlalu mengatur, lalu semua berakhir dengan Nadira yang mengalah, meminta maaf meski ia tak bersalah.
Masalah itu tak pernah benar-benar tuntas; Wisnu tetap asyik tenggelam dalam layar ponselnya, terus-terusan melakukan top up hingga kantongnya kering kerontang.
Di kantor, rasa malu itu merayap di sela-sela meja kerja ketika Wisnu kembali melangkah meminjam uang kepada temannya.
“Pinjam lima ratus dulu.” Temannya menatap tidak percaya. “Nu, kemarin katanya orang tua lu baru transfer?”
“Sudah kepakai.” “Buat apa?”
BACA JUGA:Ketika Game Jadi Orang Ketiga (2): Ketika Candu Game Runtuhkan Masa Depan Hubungan

Mini kidi--
Wisnu tidak menjawab. Namun temannya langsung mengerti. “Game lagi?”. “Cuma ada event.” “Berapa habisnya?” “Pinjemin atau enggak?” Wisnu mulai kesal.
Temannya menggeleng. "Bukan gak mau.”. “Lalu?”. “Gue takut kalau terus bantu, malah bikin lu merasa semua ini gak ada masalah.” “Sejak kapan lu jadi penasihat keuangan gue?” Wisnu tertawa sinis.
Suasana mendadak kelu, hingga seorang teman lain angkat bicara dengan nada dingin, mengingatkan akan siklus hidupnya yang selalu berputar di tempat: gajian, top up, bokek, meminjam, lalu gajian lagi.
“Beres, kan? Selalu gue bayar,” elak Wisnu ketus. “Iya,” sahut temannya serius. “Tapi hidup bukan cuma soal utang lunas. Lu mau sampai kapan hidup begini?”
Wisnu memilih pergi, menutup telinga rapat-rapat, menganggap dunia di sekitarnya kini telah bersekutu melawannya.
Badai itu kian menghantam manakala Nadira membawa catatan sederhana tentang rencana masa depan pernikahan mereka.
Sumber:







