Harlah Kejaksaan RI
iklan ulta memorandum

Ketika Game Jadi Orang Ketiga (1): Cinta yang Kalah oleh Layar Ponsel

Ketika Game Jadi Orang Ketiga (1): Cinta yang Kalah oleh Layar Ponsel

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga soal cinta--

Tidak ada yang benar-benar mengerti mengapa Wisnu selalu kehabisan uang.

Gajinya cukup besar. Pekerjaannya mapan.

Ia bahkan masih mendapat bantuan rutin dari orang tuanya. Dibandingkan beberapa teman sekantornya yang harus membayar cicilan rumah, membiayai anak, atau mengirim uang kepada keluarga, kehidupan Wisnu seharusnya jauh lebih ringan.

Namun hampir setiap pertengahan bulan, kalimat yang sama selalu terdengar dari bibirnya. “Bro, makan siang talangin dulu.”

Awalnya teman-temannya menganggap itu hanya candaan ringan semata. “Baru tanggal lima belas, Nu.”

Wisnu tertawa berderai, mencoba menutupi kenyataan pahit. “Entah kenapa duit gue cepat banget habis.”

“Pacar lu mahal kali,” celetuk temannya menduga-duga. “Justru bukan Nadira.” Semua tertawa, melepas tawa tanpa beban di kantin kantor itu.

BACA JUGA:Nasib Cinta Seorang TKW (4): Akhir Perjalanan Hidup Penuh Luka Seorang TKW


Mini kidi--

Tidak ada yang tahu, sungguh tidak ada yang menyangka, bahwa jawaban sesungguhnya dari kemisterian dompet Wisnu ada di dalam genggaman tangannya sendiri—sebuah benda pipih yang hampir tidak pernah lepas dari jemarinya. Ponsel.

Wisnu memang menyukai game. Awalnya tidak ada yang menganggapnya aneh atau berlebihan. Selepas lelah bekerja di kantor, ia bermain sekadar untuk melepas penat. Saat jam istirahat tiba, ia sesekali menyelesaikan misi harian.

Namun racun candu itu merambat pelan. Bermain saja lama-lama tidak pernah cukup bagi nafsunya.

Ada skin baru yang menggoda iman. Ada karakter baru yang tampak perkasa. Ada senjata edisi terbatas yang memancarkan gengsi. Ada pula hadiah untuk pemain lain demi mencari pujian maya. Dan berbagai event menggiurkan yang membuat Wisnu merasa seolah wajib memiliki semuanya sebelum kesempatan itu hilang dari pandangan.

“Top up lagi?” tanya teman sekantornya suatu siang dengan nada heran. “Cuma dikit,” kilah Wisnu mengelak. "Berapa?”

Sumber:

Berita Terkait