iklan muktamar
iklan HUT R!

Nasib Cinta Seorang TKW (4): Akhir Perjalanan Hidup Penuh Luka Seorang TKW

Nasib Cinta Seorang TKW (4):  Akhir Perjalanan Hidup Penuh Luka Seorang TKW

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga perpisahan tkw.--

Di seberang lautan, di balik dinginnya malam Taiwan, Ela telah menetak sebuah garis tegas. Ia muak menghabiskan sisa usianya untuk bertengkar lewat kawat telepon. Beberapa pekan kemudian, sebuah pesan singkat mendarat di gawai Wanto, membawa debar ketakutan. “Bulan depan aku pulang ke Indonesia.”isi pesan yang dikirim Ela kepada suaminya.

Seketika Wanto menderingkan nomornya, panik mendera: “Kamu pulang buat apa?”tanya Wanto. Ela terpaku, terhenyak mendengar tanya suaminya sendiri. Bertahun-tahun ia membanting tulang di negeri orang, dan kini, saat ia hendak pulang, lelaki yang dinakahinya justru menyambut dengan tanya sinis.

“Aku mau pulang ke hidupku sendiri.”ujarnya. “Kita bisa selesaikan lewat telepon.”ucap Wanto. “Tidak.”tegas Ela. “Ela, jangan bikin masalah semakin besar.” Wanto tertegun.

Suara Ela justru meluncur begitu tenang, dingin, dan mematikan: “Aku bukan sedang membuat masalah, Wan. Masalahnya sudah kamu buat ketika aku masih sibuk bekerja untuk membiayai rumah tangga kita.” “Aku cuma pulang untuk menyelesaikannya.”imbuh Ela.

BACA JUGA:Nasib Cinta Seorang TKW (3): Pesan Singkat Hancurkan Panggung Sandiwara Wanto


Mini kidi--

Burung besi itu mendarat membawa sejuta luka yang membeku. Tanpa jemputan, tanpa dekap hangat, Ela melangkah membawa map tebal berisi jejak busuk sang suami. Tak ada niat merebut Wanto dari tangan Rara, sebab harga diri lelaki itu telah jatuh berkeping-keping.

Di sebuah meja, takdir mempertemukan dua hati yang tersakiti. Rara, perempuan yang sempat singgah di rongga gelap itu, ternyata hanyalah korban lain dari kebohongan yang sama. Penyesalan datang terlambat ketika Wanto hadir dengan sejuta dalih klasik, menyalahkan jarak dan pengorbanan Ela demi menutupi noda hitam pengkhianatannya. “Kamu juga yang memilih pergi kerja jauh.”Kalimat itu menjadi tikaman terakhir yang menyadarkan Ela. 

Rara memilih pergi dengan keputusannya sendiri, meninggalkan Wanto dalam kehampaan yang ia ciptakan. Bulan-bulan berganti, Wanto masih sempat mengirimkan racun terakhir lewat layar gawai kepada Ela. “Kalau dulu kamu gak pergi ke Taiwan, mungkin aku gak akan dekat sama Rara.”ucap Wanto.

BACA JUGA:Nasib Cinta Seorang TKW (2): Uang Kiriman Disetop, Topeng Sang Suami Mulai Runtuh


Gempur Rokok Illegal--

Dengan tangan yang tidak lagi gemetar, Ela mengetik balasan pamungkas. “Aku pergi ke Taiwan untuk memperjuangkan kita. Kamu tinggal di Indonesia dan memilih mengkhianatinya. Jangan jadikan pengorbananku alasan untuk pilihanmu.”tegas Ela.

Jari-jarinya bergerak mantap. Nomor Wanto diblokir selamanya. Malam itu, air mata terakhir tumpah di atas pipinya. Taiwan memang merenggut waktu dan pernikahannya, namun di tanah rantau itulah ia menemukan harga diri yang sempat hilang. 

Pengorbanan bukanlah alasan untuk diinjak-injak, dan cinta sejati tidak akan pernah menuntut seorang perempuan berjuang sendirian sementara suaminya menanam luka di rumah sendiri. (atp/rdh/fer/habis)

Sumber: