Nasib Cinta Seorang TKW (1): Derai Air Mata di Negeri Orang
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Betapa kejamnya roda nasib berputar. Siapa sangka, janji manis yang diikrarkan di bawah temaram lampu jalanan desa dulu, janji setia yang dibayar mahal dengan air mata perbedaan keyakinan, kini hancur lebur berkeping-keping diterjang badai dusta.
Ela... perempuan malang yang mempertaruhkan keringat darah di negeri orang, merelakan jemarinya kasar dan punggungnya bungkuk demi satu impian suci: membangun mahligai rumah tangga bersama Wanto, lelaki yang telanjur dicintainya setengah mati.
Jalan menuju pernikahan mereka tidak mudah. Ada keluarga yang mempertanyakan, ada air mata, dan ada pilihan hidup yang harus diambil Ela. Namun saat itu, semua terasa pantas diperjuangkan. “Aku cuma ingin kita bisa hidup bersama,” kata Ela suatu malam. Wanto menggenggam tangannya. “Percaya sama aku. Aku akan jaga kamu.”. Ela percaya.
BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (5): Terjebak dalam Lingkaran Janji yang Ingkar

Mini kidi--
Bertahun-tahun kemudian, justru janji itulah yang paling sering ia ingat ketika hidup mulai terasa berbeda. Pernikahan mereka tidak selalu berjalan mudah. Penghasilan Wanto tidak menentu, sementara kebutuhan terus bertambah.
Akhirnya Ela mengambil keputusan berat: bekerja sebagai TKW di Taiwan. Bukan karena ingin meninggalkan suaminya, justru karena ingin menyelamatkan kehidupan mereka. Hari keberangkatan menjadi salah satu hari terberat bagi Ela. “Jangan macam-macam ya selama aku di sana,” katanya setengah canda sambil menahan tangis.
Wanto tersenyum. “Kamu pikir aku laki-laki seperti apa?”. Ela memeluknya. “Jaga rumah kita.” “Iya.” “Aku kerja di sana juga buat kita.” Wanto mengangguk. Ela pun pergi membawa satu koper dan begitu banyak harapan.
Kehidupan di Taiwan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Setiap menerima gaji, hal pertama yang dilakukannya bukan membeli sesuatu untuk dirinya sendiri, melainkan mengirim uang kepada Wanto. “Sudah aku transfer.” Balasan Wanto hampir selalu sama. “Sudah masuk. Makasih.”
BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (4): Pesan Terakhir yang Gagal Menjadi Akhir

Gempur Rokok Illegal--
Ela hanya menyisakan secukupnya untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika teman-temannya membeli pakaian baru, Ela menahan diri. Ketika ada kesempatan jalan-jalan, ia sering memilih tidak ikut. “Ngapain kerja jauh-jauh kalau uangnya gak ditabung?” katanya. Dalam pikirannya ada rumah, ada masa depan, dan ada Wanto yang menunggunya pulang. Setidaknya, begitulah yang Ela percaya.
Di Indonesia, ternyata kehidupan Wanto tidak sesederhana yang diceritakannya. Ada seorang perempuan bernama Rara. Pertemuan mereka awalnya biasa saja, namun perlahan berubah menjadi kedekatan. Tanpa pernah diketahui Ela, sebagian uang kirimannya ikut mengalir ke kehidupan itu.
Suatu hari Wanto kembali menelepon. “La, bulan ini bisa kirim lebih?” Ela yang baru selesai bekerja terlihat lelah. “Yang kemarin sudah habis?” “Banyak kebutuhan.” “Kebutuhan apa, Wan?” Nada suara Wanto langsung berubah. “Kok sekarang jadi perhitungan?” Ela terdiam. “Aku cuma tanya.” “Aku ini suamimu.” Kalimat itu membuat Ela merasa bersalah. “Ya sudah. Besok aku usahakan.”
Sumber:







