Cinta yang Mengikis Harga Diri (5): Terjebak dalam Lingkaran Janji yang Ingkar
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga--
Hari demi hari, percakapan itu semakin intens. Luka lama mulai tertutup oleh kenangan indah. Kata-kata kasar yang dulu membuat Dama menangis perlahan kalah oleh kalimat-kalimat manis. Eka meminta maaf, Dama memaafkan. Mereka bertemu sekali, kemudian dua kali, sampai akhirnya hubungan itu kembali seperti semula.
Namun Dama memilih merahasiakannya. Ia malu—bukan kepada Eka, tetapi kepada orang-orang yang selama ini membantunya bangkit. Ironisnya, orang yang akhirnya membongkar semuanya justru Eka sendiri.
Suatu siang, teman kantor Dama kembali menerima pesan. “Aku sama Dama sudah balikan.” Temannya membaca pesan itu dengan tidak percaya. Belum sempat membalas, pesan berikutnya masuk. “Tapi sekarang kami berantem lagi.”
Ketika Dama masuk kantor keesokan harinya, tidak ada yang mengejek, tidak ada yang marah, tidak ada pula yang bertanya. Justru keheningan itu membuat Dama gelisah. “Kalian sudah tahu?”
BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (4): Pesan Terakhir yang Gagal Menjadi Akhir

Mini kidi--
Salah seorang temannya mengangguk. “Dari Eka?”. “Iya.” Dama menunduk. “Kenapa kalian gak ngomong apa-apa?” Temannya menatapnya cukup lama. “Mau ngomong apa lagi, Dam?” Dama diam. “Kami sudah pernah bilang kamu pantas dihargai. Sudah pernah bilang jangan kembali”
Dama menarik napas. “Tapi kalau kamu sendiri memilih kembali, kami bisa apa?” Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada ejekan apa pun. Hubungan Dama dan Eka akhirnya kembali pada pola yang sama. Hal kecil menjadi pertengkaran, pertengkaran berubah menjadi hinaan, kemudian putus, lalu saling mencari.
Dama tetap mengalah, dan teman-temannya perlahan berhenti ikut campur—bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena mereka sadar, seseorang hanya bisa ditolong ketika dirinya sendiri ingin keluar. Suatu sore, Dama kembali menerima pesanan kopi di kantor. Kali ini ia tahu siapa pengirimnya: Eka. Di gelas itu tertulis sebuah pesan pendek: “Jangan marah lagi.”
BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (3) Batas Kesabaran yang Kian Menipis

Gempur Rokok Illegal--
Dama tersenyum, mengambil ponselnya, dan kembali membalas. Di meja sebelah, teman-temannya hanya saling berpandangan, tak seorang pun berkata apa-apa. Karena akhirnya mereka memahami… yang membuat Dama terus kembali bukan karena ia tidak tahu bahwa hubungan itu melukainya.
Ia tahu. Ia hanya belum memiliki keberanian untuk kehilangan seseorang yang dicintainya, meskipun untuk mempertahankannya ia harus kehilangan sedikit demi sedikit rasa hormat kepada dirinya sendiri. Dan begitulah kisah mereka berakhir. Bukan dengan perpisahan, bukan pula dengan kebahagiaan, melainkan dengan lingkaran yang terus berputar: putus, kembali, terluka, memaafkan, lalu kembali lagi.
Kadang, bad ending paling menyedihkan bukan kehilangan orang yang kita cintai, tetapi kehilangan diri sendiri karena terlalu takut melepaskannya. (atp/rdh/fer/habis)
Sumber:






