Cinta yang Mengikis Harga Diri (4): Pesan Terakhir yang Gagal Menjadi Akhir
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga menelpon--
Malam itu, di antara pekatnya kopi yang mulai dingin dan puntung rokok yang menumpuk di asbak kehidupan, tirai sandiwara itu akhirnya ditutup paksa. Bukan oleh takdir yang agung, melainkan oleh sebuah ketukan jari di atas layar ponsel. Satu pesan masuk ke ponsel Dama. “Sudah. Kita selesai. Jangan cari aku lagi.”
Tidak ada kesempatan untuk menjelaskan. Tidak ada ruang untuk memperbaiki. Eka memutuskan semuanya begitu saja. Dama hanya membaca pesan itu berkali-kali. Anehnya, ia tidak membalas. Mungkin karena sudah terlalu lelah, atau mungkin karena jauh di dalam dirinya, Dama tahu hubungan itu memang seharusnya berakhir sejak lama.
Keesokan harinya, teman-teman kantor langsung menyadari perubahan wajahnya. “Putus lagi?”. Dama mengangguk. “Kali ini dia yang mutusin.” Tidak ada yang mengejek. Justru mereka lega. “Mungkin ini kesempatanmu berhenti, Dam.”. Dama tersenyum hambar.“Mungkin.”
BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (3) Batas Kesabaran yang Kian Menipis

Mini kidi--
Hari berganti. Dama mulai terlihat lebih baik. Ia kembali bercanda, kembali fokus bekerja. Tidak ada lagi telepon panjang saat jam kantor, tidak ada lagi wajah murung setelah membaca pesan. Teman-temannya mengira kali ini Dama benar-benar berhasil keluar.
Sampai suatu siang… resepsionis kantor memanggil namanya. “Mas Dama, ada pesanan kopi.” Dama mengernyit. “Kopi?”. “Iya.”. Sebuah paper bag diletakkan di mejanya. Namanya tertulis jelas: DAMA. Dama membuka pesanan itu. Kopi yang biasa ia minum. Tidak ada kartu, tidak ada nama pengirim. “Siapa yang ngirim?” tanya temannya. “Gak tahu.” “Gebetan baru?”
Semua tertawa. Dama ikut tersenyum, namun dalam kepalanya hanya ada satu nama: Eka. Karena hanya sedikit orang yang tahu persis kopi kesukaannya. Dama menatap gelas itu cukup lama. Ia seharusnya membiarkannya, namun rasa penasaran mengalahkan logika. Tangannya mengambil ponsel, nama Eka masih tersimpan. Dama mengetik perlahan. “Kamu yang kirim kopi ke kantor?”
BACA JUGA:Cinta yang Mengikis Harga Diri (2): Bunga Berduri dan Jerat Asmara Berdarah

Gempur Rokok Illegal--
Pesan terkirim. Beberapa menit tidak ada jawaban, lalu layar ponselnya menyala. “Kopi apa?”. Dama menjelaskan, dan balasan berikutnya datang. “Bukan aku.”
Seharusnya percakapan berhenti di sana, namun tidak. Eka kembali bertanya. “Kamu sekarang gimana?” Satu pertanyaan sederhana, tetapi cukup untuk membuka kembali pintu yang sudah hampir tertutup. “Baik.” “Kerjaan?” “Baik juga.”
Percakapan berlanjut. Dari kopi misterius, menjadi pekerjaan, menjadi keluarga, lalu perlahan… menjadi mereka. Teman-teman kantor tidak mengetahui apa-apa; Dama menyimpan semuanya. Ia tahu apa yang akan mereka katakan kalau mengetahui dirinya kembali berkomunikasi dengan Eka. (atp/rdh/fer/bersambung)
Sumber:






