Menjaga Pelita Independensi: Refleksi dari Madinah Menjelang Umrah

Menjaga Pelita Independensi: Refleksi dari Madinah Menjelang Umrah

A. Nawawi Maksum, Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso--

Saya menulis catatan ini dari keheningan Madinah Al-Munawwarah, tepat sebelum melangkah bergerak menunaikan ibadah umrah ke Makkah. Menikmati waktu luang menjelang keberangkatan, jemari saya tergerak membuka gawai dan menyaksikan sebuah tayangan diskusi di kanal YouTube yang mengupas dinamika ekonomi mutakhir. Dari layar kecil itu, obrolan yang mengalir di sebuah kafe di Menteng seolah hadir di hadapan saya.

Gerimis sore itu baru saja reda di kawasan Menteng. Di sudut kafe yang tenang, Prof. Rhenald Kasali dan Ferry Latuhihin tampak duduk berhadapan. Di antara keduanya, dua cangkir kopi hitam mengepulkan aroma pekat yang perlahan memudar ke udara. Siang itu, sebuah kabar besar mendadak menghentak lantai bursa: Perry Warjio, sang nakhoda Bank Indonesia, memilih menanggalkan jabatannya di tengah jalan, padahal masa baktinya masih menyisakan dua tahun lagi.

BACA JUGA:Menepis Panik, Menjaga Alur Republik

Di dunia perbankan dan finansial, mundurnya seorang gubernur bank sentral bukanlah perkara sepele. Itu adalah gempa kecil yang langsung menghantam rasa aman pasar.

"Ada apa sebenarnya, Bro?" tanya Rhenald memecah keheningan meja.

Ferry menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. Ia menyebut satu nama yang kini tengah menjadi pusat badai di lingkaran kekuasaan: Purbaya.


Gempur Rokok Illegal--

Beberapa hari sebelumnya, ruang rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dikabarkan memanas. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian mencengkeram, bank sentral bersikap konservatif dengan memilih jalan aman: menahan suku bunga di angka 5,75 persen demi mengerem laju pelemahan rupiah. Namun, di luar gedung perkantoran mewah itu, angin politik bertiup ke arah lain.

BACA JUGA:Rompi Oranye Akhiri Sebuah Kekuasaan

Kementerian Keuangan dikabarkan tidak sejalan dan menuntut langkah yang jauh lebih agresif demi mengejar target pertumbuhan ekonomi yang ambisius.

Di sinilah letak titik didih persoalannya. Bank sentral ibarat pedal rem dan gas pada sebuah kendaraan yang melaju kencang. Ia tidak boleh diinjak secara paksa hanya demi memuaskan ambisi politik penguasa.

Ketika garis batas antara keuangan negara dan independensi moneter dilebur begitu saja, institusi yang seharusnya menjadi penjaga gawang uang rakyat itu terancam berubah wujud menjadi sekadar pengikut yang tunduk pada titah kekuasaan.

BACA JUGA:Jejak Sunyi di Sungai Katingan

Padahal, kepercayaan publik adalah barang paling rapuh di dunia ekonomi. Sekali ia retak akibat kebijakan yang ugal-ugalan, biaya sosial yang harus dibayar oleh rakyat jelata akan sangat mahal.

Sumber: