Wasiat Terakhir Mertua (6): Sebuah Pengorbanan yang Tak Terucap
ilustrasi sejuta kisah rumah tangga saling berpelukan.--
Buku harian itu kembali berbicara lewat goresan tinta yang samar. “Hari itu, Laras bersimpuh. Ia memohon dengan sangat agar aku mau merestui cinta kalian. Dengan suara bergetar, ia berjanji akan menjaga dan membahagiakan putraku seumur hidupnya…” “Namun… dengan kejamnya aku menolak mentah-mentah permintaan itu.”
Pertahanan Laras runtuh. Air matanya menetes satu demi satu, membasahi pipinya yang pucat. Bayangan masa lalu itu mendadak hadir kembali. “Aku melontarkan kata-kata menyakitkan. Aku sebut Laras tak sederajat, tak pantas menjadi istri Henry hanya karena ia datang dari keluarga sederhana yang tak punya harta kekayaan. Bahkan… aku menyuruhnya pergi meninggalkan Henry demi masa depan anakku.”
Henry memejamkan mata rapat-rapat. Gelap. Peristiwa kelam itu sama sekali tak pernah mampir dalam pengetahuannya. Betapa kaku dan butanya ia selama ini. “Tetapi Laras tidak membalas kebiadaban kataku dengan racun dendam. Ia hanya menatapku lurus dan berkata lemah: 'Jika suatu hari nanti Ibu melihat saya benar-benar mencintai Mas Henry dengan tulus, semoga saat itu Ibu mau membukakan pintu maaf untuk saya… wanita yang belum bisa menjadi menantu impian Ibu.'”
BACA JUGA:Wasiat Terakhir Mertua (5): Jejak Dosa di Balik Buku Harian

Gempur Rokok Illegal--
Tangis Laras benar-benar pecah melintasi keheningan malam. Lima belas tahun lamanya ia mengubur luka menakutkan itu sendirian. Ia menelan pahitnya penghinaan hanya demi satu alasan: ia tak ingin Henry membenci ibu kandungnya sendiri. Ia tak ingin pria yang dicintainya berada di persimpangan dilema antara memilih ibu atau istrinya.
Dengan sisa tenaga yang ada, Henry meraih dan menggenggam erat jemari Laras. Tatapan matanya sarat akan penderitaan dan rasa bersalah yang amat dalam. Buku harian itu belum usai menumpahkan dosa.
“Berdua belas tahun setelahnya, aku terus mencari-cari celah dan kesalahan Laras. Aku berharap bisa membuktikan pada dunia bahwa keputusanku dulu adalah benar. Namun… semakin aku mencari celahnya, semakin telanjang mata ini menyaksikan ketulusannya. Dialah yang mengusap dahi dingin ini saat aku terbaring sakit. Dialah yang setia menemaniku di bangsal hospital, mengurus segala keadaanku tanpa pernah sekali pun mengungkit luka masa lalu yang pernah kutorehkan…”
BACA JUGA:Wasiat Terakhir Mertua (4): Lembar Rahasia di Balik Wasiat Mertua
“Di saat itulah, kesadaranku menampar keras… Yang nista bukan Laras. Yang hina adalah kesombonganku sebagai seorang ibu.”
Lalu pada halaman paling akhir, tertera bait kalimat yang akhirnya meruntuhkan keteguhan Henry hingga ia meraung dalam tangis. “Henry…
Jika hari ini kamu membaca pengakuan dosa ini, jangan pernah sekali pun kamu salahkan Laras. Dekaplah dia… peluklah wanita itu erat-erat. Sebab dialah yang telah menjaga keutuhan keluargamu, sekaligus menyelamatkan harga diri ibumu yang penuh dosa ini. Ia memilih bungkam agar ikatan darah kita tidak pecah. Padahal… dialah yang seharusnya menerima pemaafan dariku sejak dulu…”
Perlahan, jemari Laras menutup buku harian yang basah oleh air mata itu. Henry menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan yang begitu erat dan hangat. “Maafkan aku, Laras… maafkan aku…” bisiknya serak di antara isak yang menyesakkan dada. Laras menggeleng pelan di pundak suaminya. “Mas tidak salah…” “Tapi aku buta… Aku gagal melihat betapa besarnya pengorbananmu selama ini!”
Air mata keduanya menyatu dalam keheningan malam. Bukan karena rebutan harta warisan, bukan pula karena silau kekayaan. Melainkan karena sebuah ikhtibar pahit kehidupan: bahwa restu orang tua adalah muara dari kebahagiaan. (atp/rdh/fer/habis)
Sumber:



