iklan bhayangkara2
Pildun Banner

Harga Sebuah Kebohongan (4): Menjual Harga Diri Demi Konten

Harga Sebuah Kebohongan (4):  Menjual Harga Diri Demi Konten

ilustrasi sejuta kisah rumah tangga demi konten.--

Sore itu, bel pintu rumah kontrakan berdering. Ketika Epu membukanya, berdiri sosok Sinta dengan wajah pucat dan mata sembap. "Mbak Sinta..." ujar Epu lirih, tersenyum tipis tanpa ada rasa dendam.

Pertahanan Sinta hancur seketika. Air matanya meluncur deras membasahi pipinya. "Maafkan aku, Epu... Maafkan aku..." ratap Sinta seraya menggenggam jemari Epu. "Aku... aku seharusnya menghentikan kegilaan ini sejak awal!"ucap Shinta.

Epu menggeleng pelan, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan iba. "Aku tidak marah pada Mbak."ucapnya. "Tapi kenapa?" tangis Sinta kian pecah.

"Aku ikut mengangguk pada kebohongan itu! Aku membiarkanmu dihina hanya karena aku takut kehilangan uang!" Epu menarik napas dalam, memegang bahu Sinta dengan lembut. "Uang memang bisa membeli kenyamanan, Mbak Sinta... Tapi uang tidak akan pernah bisa membeli kembali kehormatan dan jiwa kita yang telah hilang." Kata-kata Epu menghantam sudut hati Sinta yang paling dalam.

BACA JUGA:Harga Sebuah Kebohongan (3): Mahligai Cinta di Atas Panggung Kepalsuan


Gempur Rokok Illegal--

Malam itu, ia pulang membawa tekad yang tak lagi bisa ditawar. Di ruang tamu, cahaya lampu ring light menyilaukan mata. Ilham sedang berdiri di depan kamera dengan senyum palsunya yang biasa. "Kita lanjutkan episode dramatis berikutnya ya, teman-teman..." Sinta melangkah maju dan mematikan sakelar kamera tanpa ragu.

Suasana mendadak menjadi gelap dan hening. Ilham terperanjat, matanya melotot tajam menahan amarah. "Sinta! Apa-apaan kamu?! Kita sedang live!"ucap Ilham. "Cukup, Mas! Cukup!" teriak Sinta dengan suara serak menahan beban yang teramat berat. "Kamu tahu tidak, kalau kita berhenti sekarang, semua kontrak kerja sama bisa batal dan kita harus bayar ganti rugi?!" bentak Ilham sembari mendekat.

BACA JUGA:Harga Sebuah Kebohongan (2): Tokoh Jahat yang Tak Pernah Memilih

Sinta menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. Tatapan yang tak lagi memancarkan ketakutan, melainkan kekecewaan yang amat mendalam. "Dulu... aku jatuh cinta dan menikah dengan seorang laki-laki pekerja keras yang jujur," ucap Sinta lirih, setiap katanya meneteskan kepedihan.  "Bukan dengan pria yang tega menjual harga diri dan memberi makan istrinya dari hasil membina kebohongan!" Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong.

Ilham membeku di tempatnya. Bibirnya terkatup rapat, tak sanggup menyanggah sepatah kata pun. Untuk pertama kalinya, di dalam keheningan ruangan itu, Ilham merasa sangat kerdil. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling kelam, ia sadar... yang tengah ia pertahankan mati-matian bukanlah sekadar konten, melainkan gulungan dosa dan kebohongan yang kian membesar.

Dan ia tahu betul, makin lama ia memelihara kepalsuan ini, makin mahal harga jiwa yang harus mereka bayar sebagai gantinya. (atp/rdh/fer/bersambung)

Sumber:

Berita Terkait