Lilin Negara dan Piring-Piring Sekolah
A. Nawawi Maksum, Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso--
Ada yang sunyi di balik meja-meja sekolah kita hari ini: kepulan uap nasi dan derit piring-piring aluminium yang beradu. Di sanalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) singgah. Sebuah ikhtiar besar yang, entah mengapa, sering membuat kita teringat bahwa urusan perut anak-anak kita tidak pernah sesederhana deretan angka kalori dalam buku teks gizi.

Gempur Rokok Illegal--
Badan Gizi Nasional baru saja menata ulang geladaknya. Lima pejabat baru dari Sekretaris Utama hingga para deputi diperkenalkan ke publik. Kita tentu mafhum, rotasi semacam ini biasa terjadi di kamar-kamar kekuasaan. Ada kursi yang diisi, ada meja yang digeser. Namun, di luar hiruk-pikuk administrasi itu, ada pertanyaan kecil yang menyelinap pelan: sampai di mana piring-piring itu akan tiba dengan utuh?
BACA JUGA:Rompi Oranye Akhiri Sebuah Kekuasaan
Sebab, kita sering terlalu fasih bicara tentang tonase beras, persentase karbohidrat, dan triliunan rupiah anggaran. Kita menjadikan birokrasi sebagai kalkulator raksasa yang dingin. Padahal, memberi makan orang lain apalagi jutaan anak yang sedang merajut masa depan bukanlah sekadar pekerjaan logistik. Ia adalah kerja nurani.
BACA JUGA:Di Balik Sunyi Ruang Kelas
Kisah tentang beratnya mengurus piring rakyat ini sebenarnya bukan cerita baru di muka bumi. Ingatan kita seketika ditarik ke masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, di ruang kerjanya yang hanya diterangi sebatang lilin kecil milik negara, seorang tamu datang hendak membicarakan urusan pribadi. Sang Khalifah lantas meniup padam lilin itu, lalu menyalakan lilin miliknya sendiri. Ketika ditanya mengapa ia memadamkan lilin negara, Umar menjawab dengan suara tenang bahwa minyak lilin itu dibeli dari uang umat, yang tidak boleh dinikmati sedikit pun untuk urusan di luar kepentingan rakyat.
BACA JUGA:Jejak Sunyi di Sungai Katingan
Bayangan ketulusan nurani semacam itulah yang sering luput dari ruang-ruang birokrasi modern. Para ulama salaf di masa lalu memang memandang urusan hajat publik dengan gentar yang luar biasa. Al-Hasan al-Basri pernah melukiskan orang yang memikul beban umat bagaikan berjalan di atas sebilah pedang tajam. Sedikit saja goyah, jurang penyesalan menganga. Mereka takut bukan karena kehilangan jabatan, melainkan karena mereka tahu: di setiap butir rezeki yang tak sampai kepada yang berhak, ada hak-hak yang terampas dan doa-doa kecil yang terabaikan.
Kini, meja kerja Lili Khamiliyah, Prima Yosephine, Zainuri, Mariman Darto, dan Ketut Sumedana bukan lagi sekadar tempat menumpuk berkas. Di ruang-ruang itulah integritas sedang diuji. Setiap kebijakan rantai pasok yang mereka teken, setiap jalur distribusi yang mereka awasi, menjelma menjadi jembatan rapuh atau kokoh bagi seorang anak di pelosok negeri untuk tumbuh dengan tulang yang kuat dan kepala yang tegak.
BACA JUGA:Kenyang dalam Dusta
Dan kelak, ketika matahari pagi menyinari ruang-ruang kelas di penjuru nusantara, piring-piring timah itu akan berbicara sendiri. Ia bukan lagi sekadar wadah nasi dan sayur, melainkan saksi bisu tentang apakah amanah ini dijaga dengan bersih, atau dibiarkan dingin oleh tangan-tangan yang lelah merawat nurani.
~ A. Nawawi Maksum ~
( Pengasuh PP Nurut Taqwa, Bondowoso)
Sumber:






